Latest News

Tampilkan postingan dengan label Denny JA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Denny JA. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

[Denny JA] Sendirian Kutembak Markas Polisi Aku Sudah Mati.....

 

“SENDIRIAN, KUTEMBAK MARKAS POLISI, ENAM KALI” (1)

Denny JA

“Aku sudah mati.
Ketika peluru  menembus jantungku,
rasa sepi itu datang kembali.”

“Rasa sepi itu, Ibu.
Yang sering kuceritakan padamu.
Sejak aku SMP.”
Kini datang padaku.
Lewat nyeri di jantungku.”

“Tapi rasa sepi kali ini,
jauh lebih hening.”

“Sebelum aku mati,
Namamu yang kusebut, Ibu.
Aku seolah seperti bayi kembali.
Yang kau timang- timang.”
“Lalu,
 akupun mati.”

“Maafkan Aku, Ibu.
Jika kematianku,
masih juga merepotkanmu.”

“Dari alam sana, aku mendengar.
Riuh rendah komentar orang-orang.
Mereka bilang, aku nekad.
Aku kena gangguan jiwa.”

“Aku terlalu berani.
Sendirian menyerang Mabes Polri.
Menembakkan pistol pula.
Dor, Dor, Dor.
Enam peluru.”

“Engkau tahu, Ibu.
Hanya engkau yang tahu.
Bukannya aku berani.
Tapi tinggal itu pilihanku.
Untuk memberi manfaat padamu.
Menyiapkan jalan untukmu,
untuk keluarga kita.
Abadi, di tempat layak,
di Akherat, kelak.”

-000-

Di rumah itu,  di Jakarta,
petugas polisi tiba.
Ibu, Ayah dan kakak,
menyambut di ruang tamu.

Polisi perlu mendalami.
Dari mana sang Putri, peroleh senjata air softgun?
Mengapa Putri nekad?
Siapa yang membantu Putri.
Adakah jaringan yang menggerakkan Putri?

“Silahkan Ibu, 
Ceritakan segala.”
Pak Polisi merekam percakapan.

Belum sempat berkata,
Ibu menangis,
tersedu-sedu.
Tak sempat terucap satu kata.
Kakak memeluk Ibu.
Menenangkannya.
Tapi malah Kakak ikut menangis.

Ayah menyela:
“Boleh saya saja, yang bicara pak Polisi?”
“Silahkan.” 
Pak Polisi diam. Menyimak.

“Sejak dua tahun lalu,
Putri sering menyendiri.
Ia tak lagi mau kuliah.
Juga tak bergaul.
Ia dikamar saja.
Hanya handphone dan laptop temannya.”

“Berapa kali ketika sholat subuh.
Putri bahkan belum tidur.
Ia lagi bimbang, katanya.” (2)

“Saya tanya, bimbang apa?”
Putri berkisah.
Seolah ada suara.
Ia mendapat tugas istimewa.
Menyelamatkan negara.
Berjuang untuk agama.”

“Sejak dua tahun lalu, saya khawatir, pak Polisi.”

“Pernah dibawa ke psikiater?,” tanya pak Polisi.
“Putri tak mau.
Ia malah marah.
Menangis.
Saya tidak sakit jiwa, Ayah.
Kok mau dibawa ke psikiater.”

“Akhirnya saya datangkan, guru agama.
Kata Pak Guru, Putri sedang krisis iman.
Terus saja ajak Putri berdoa.
Nanti sembuh sendiri.”

“Begitulah kondisinya sehari- hari.
Saya bahkan beberapa kali menjodohkan Putri.
Sudah ada tiga lelaki yang saya bawa ke sini.
Jika punya suami, mungkin berbeda prilaku.
Tapi Putri tak mau.”

“Saya sudah upayakan semua, pak Polisi.”

-000-

“Ibu sendiri melihat gejala apa pada Putri?”
Pak Polisi tetap ingin mendengar pandangan Ibu.
Dari data sementara,
terasa cinta Putri pada Ibu sangat ekstra.

Kembali Ibu menangis.
Hanya menangis saja.

Kakak yang meneruskan kisah.
“Putri kerjanya hanya online, pak polisi. (3)
Ia sering mendengar ceramah agama.”

“Kami semua di sini,
Muslim yang taat.
Tapi paham Putri ini beda.
Beda banget.”

“Saya pernah membentak, Putri.
Ia melarang Ibunya simpan uang di bank.
Katanya itu melawan agama.
Waktu pemilu lalu.
Putri juga melarang semua mencoblos.
Katanya, jangan memilih orang zolim.
Semua mereka hanya ingin mengganti hukum dari Tuhan.” (4)

Pak polisi, diam saja.
Menyimak.

“Dari mana Putri dapatkan pistol itu? Yang Ia bawa ke Mabes Polri?”

Ayah menyela:
“Itu juga saya heran, pak Polisi.
Kok bisa bisanya, Ia punya pistol?”
Padahal Ia tak punya teman.”

-000-

Terbata lalu, Ibu ikut bercerita.
“Seminggu sebelum wafat, Putri sempat curhat.
Katanya, Ia kesepian.
Hampa.”

“Saya membujuknya, untuk kuliah lagi.”
Ia tak mau.
Itu ilmu orang kafir, alasannya.”

“Bagaimana cari kerja?
Kamu akan punya penghasilan.
Punya kegiatan.”

“Tapi memang ini era virus corona.
Bagaimana mau kerja?
Yang ada, PHK dimana- mana.”

Kembali, Ibu menangis.
Sambil berkata, terbata: 
“Entah mengapa saat itu,
Putri berkali- kali minta.
Agar Ibu memaafkannya.
Sebersih- bersihnya.”

“Saya tak ingin menjadi benalu, Ibu,” seru Putri.
Berkali- kali.
“Saya tidak kuliah.
Tidak kerja.
Tidak menikah.
Tidak punya teman.”

“Tapi saya sudah ketemu solusi,” ujarnya.
“Insha Allah, Ibu akan bangga.
Insha Allah,  bermanfaat buat Ibu dan keluarga.”

“Solusi apa, Nak,” tanya saya.
Saya mulai curiga.
Tapi Putri diam saja.
Erat sekali Ia memeluk saya.
Sambil menangis.
Cegugukan.”

“Saat itu, sungguh Ibu tak mengerti.”

“Ya, Allah, Ibu tak menduga.
Jika ini solusinya.
Ia berkorban.
Ia nekad sendirian ke Mabes Polri.
Karena meyakini,
Ini jalan sahid.”

“Ya Allah, anakku.
Kok begitu.
Mana Ibu tega jika itu solusinya.”

“Ampun, Nak.
Jangan berkorban seperti ini.”
Kembali Ibu menangis.
Dada terguncang-guncang.

-000-

Di kantor, 
Pak Polisi terdiam.
Hari sudah malam.
Larut.
Sepi.

Apa yang harus Ia simpulkan?

Putri ini terlalu lugu untuk disebut teroris.
Ia terkena ganguan jiwa pula.

Dari laptop, terus Pak Polisi pelajari.
Apa itu Lone Wolf Terorism?
Apa itu Individu, atau kelompok kecil yang bergerak sendiri.
Tak lagi berhubungan dengan organisasi besar terorisme.

Dilihatnya data itu.

Peristiwa seperti Putri.
Terjadi di banyak negara.
Dari Asia hingga Australia.
Dari Afrika hingga Amerika.
Dari Eropa hingga Timur Tengah.

Putri sudah mati.
Tapi siapa yang bisa bantah?
Di berbagai belahan Nusantara,
tengah tumbuh Putri- Putri yang lain.***

April 2021.

CATATAN

(1). Kisah ini sepenuhnya fiksi, walau diinspirasi oleh kisah sebenarnya dari Zakiah Aini

https://news.detik.com › berita7 Fakta Baru Zakiah Aini Serang Mabes Polri Pakai Air Gun

(2). Banyak Lone Wolf Terrorism ditandai oleh mental illness, antara lain gejala Schizoprenia

https://www.worldscientific.com › doiWeb resultsLone Wolf Violent Extremism and Mental ...

(3). Pengetahuan soal terorisme justru kini banyak didapatkan melalui Online.

https://elearning.osce.org › aboutPreventing and Countering the Use of the Internet for ...

(4) Paham agama Putri agak menyempal. Ia menghidupkan permusuhan tinggi kepada simbol pemerintahan yang dianggapnya zolim.

https://www.pikiran-rakyat.com › ...Web resultsSebut Pemerintah Thogut, Berikut Isi Lengkap Surat ...
Artikel.iniok.com


Kamis, 11 Maret 2021

MENDENGAR SBY SETELAH KLB VERSUS “REALPOLITIK”

 

MENDENGAR SBY SETELAH KLB VERSUS “REALPOLITIK”

Denny JA

“Jika dua ahli hukum berdebat, maka akan ada tiga pendapat.” 

Itulah adagium yang sudah diajarkan pada kepada mahasiswa fakultas hukum, sejak semester pertama.

Seketat apapun hukum yang dibuat, di tangan para ahli hukum, apalagi ahli hukum yang tengah bermanuver, aturan itu dapat ditafsir berbeda.

Adagium atau pepatah ini pula yang akan merumitkan Partai Demokrat. Sejak 5 Maret 2021, publik dibingungkan oleh hadirnya dua versi Partai Demokrat.

Pengurus versi mana yang sah? Yang mana yang legal? Yang mana yang akan mendapatkan “sertifikat” keabsahan” dari Menkumham? 

Apalalagi pastilah dua kubu yang bertarung itu masing-  masing diback-up oleh ahli hukum.

Yang satu dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Satu lagi hasil KLB Demokrat 5 Maret 2021, yang dipimpin Moeldoko.

Bobot Moeldoko menambah rumit situasi. Ia kini kepala KSP (Kantor Staf Presiden) lingkaran utama presiden yang sedang berkuasa. Ia juga pernah menjabat panglima TNI.

Dibiarkannya KLB ini terjadi, tanpa dibubarkan polisi. Dibiarkannya Moeldoko berpartisipasi dalam KLB tanpa dilarang presiden. Dua hal itu juga menambah komplikasi persoalan.

Kitapun teringat dengan istilah Realpolitik. Istilah ini diciptakan oleh Ludwig von Rochau, di tahun 1853. Sekitar 168 tahun lalu. (1)

Pemenang pertarungan politik acapkali ditentukan oleh Realpolitik. Bukan moral atau etika yang utama, tapi hukum pragmatisme politik yang bekerja.

Siapa yang menguasai opini publik? Siapa yang paling bisa membujuk ketua wilayah dan cabang setelah KLB?

Dan siapa yang paling mampu meyakinkan pemegang lisensi “keabsahan partai politik,” yakni penguasa yang riel itu sendiri? 

Ia yang menguasai sekaligus tiga variabel di atas yang akan menang.

Sila pertama Realpolitik: Bukan etika atau moralitas, tapi mereka yang bekerja sesuai dengan hukum besi politik  itulah yang akan berjaya.

-000-

SBY seperti biasa tampil dengan elegan. Ia memberi pernyataan, jumpa dengan wartawan, setelah KLB Demokrat selesai.

Ia menyatakan kekagetannya. Mengapa Moeldoko, orang yang dulu Ia percaya menjabat ketika SBY menjadi presiden, Ia beri amanah, kok “tega” dan “berdarah dingin” mengambil alih Demokrat.

SBY juga bercerita. Ketum Demokrat yang sah bahkan sudah membuat surat kepada Presiden Jokowi soal manuver pembantu dekatnya. 

Tapi tak ada respon yang signifikan dan akhirnya KLB itu terjadi.

SBY pun memaparkan betapa syarat KLB yang diatur dalam AD/ART Demokrat tak terpenuhi. 

Satu persatu syarat itu, SBY urai. Mulai dari syarat 2/3 jumlah Dewan Pimpinan Daerah, 1/2 jumlah pimpinan cabang. Dan disetujui Majelis Tinggi Partai yang ketuanya adalah SBY sendiri.

Sudah diduga, pihak penyelenggara KLB pasti pula memiliki tim hukum sendiri. Mereka melakukan manuver yang bisa ditafsir “sah” dan legal, sesuai dengan UU kepartaian.

Bagi penyelenggara KLB, pemilik suara, DPD dan DPC, tak perlu hadir secara fisik. Tanda tangan mereka atas KLB sudah cukup. 

Penyelenggara mengklaim sudah mengantongi tanda tangan itu dalam jumlah yang cukup.

KLB pun dianggap sah. Ia menjadi forum tertinggi.

Izin Majelis tinggi tak mereka hiraukan. Mereka menafsir izin Majelis Tinggi itu bertentangan dengan hukum demokrasi. KLB partai menjadi tergantung dari satu orang saja (Ketua Majelis Tinggi). Padahal partai itu milik anggota.

Ketika KLB digelar, yang pertama kali diubah adalah aturan AD/ART. Termasuk menghapus institusi majelis tinggi. Sehingga dalam AD/ART hasil KLB, tak perlu persetujuan Majelis Tinggi untuk memilih ketua umum berikutnya.

KLB juga memberikan kartu anggota khusus kepada Moeldoko. Saat itu pula ditetapkan Moeldoko sah untuk maju dan bertarung memperebutkan Ketua Umum baru.

Forumpun dirancang untuk tidak aklamasi. Moeldoko harus berkompetisi dengan kandidat lain sebagai ketua umum: Marzuki Ali.

Cepat sekali pemilihannya. Cukup dengan voting berdiri, tak usah dihitung lagi, kasat mata, pendukung Moeldoko lebih banyak.

KLB pun memutuskan Moeldoko ketum Demokrat baru. Marzuki Ali yang kalah ditetapkan Ketua Dewan Pembina.

Setelah terpilih, Moeldoko baru hadir secara fisik di arena KLB. Ia pun berpidato, menerima posisi Ketum Demokrat baru, setelah diyakinkan (meyakini) prosedur AD/ART dipatuhi.

-000-

Sebelum KLB, pertarungan Realpolitik sudah terjadi. 

Pertarungan opini publik sudah disebar. Semua pihak memainkan istilah dan citra, menyerang lawan, dan membenarkan posisinya.

Pihak AHY, menghidupkan istilah “kudeta, politik Orde Baru, Istana terlibat, KLB abal- abal, broker politik yang bekerja, uang bermain, Demokrat  is not for sale.”

Pihak pro KLB memainkan isu lain: “Dinasti politik, partai terbuka dan modern diubah menjadi partai keluarga, turunnya perolehan partai sejak pemilu 2014 dan 2019, kekecewaan DPD dan DPC akibat DPP melakukan mahar politik.”

Mengapa istana terlibat? Dimainkan pula isu lain, yang publik tak tahu pasti benar salahnya. SBY dikabarkan acapkali ikut “membiayai” anti kebijakan pemerintah, seperti demo UU Cipta Kerja.

Atas nama stabilitas politik, apalagi di masa sulit, demokrat perlu ditertibkan. Kekecewaan anggota senior yang berujung pada KLB, dianggap momen yang pas menertibkan demokrat.

Ke depan, kita akan menyaksikan dua jenis pertarungan berikutnya dari dua versi demokrat.

Pertama, mereka akan saling berebut dukungan DPD dan DPC. Rebutan tak hanya dengan “wortel” (insentif), tapi juga stick (punishment).

Demokrat versi KLB bisa dipastikan menawarkan “gula gula,” aturan baru yang menambah wewenang DPD dan DPC.

Jika DPD, DPC tak tunduk, mereka akan diancam diganti.

Kedua, dua versi Demokrat saling berebut sertifikat pengurus yang sah dari Kemenkumhan. 

Kini Kemenkumham adalah Yasonna H Lauly. Untuk kasus sebesar KLB demokrat membuat sang menteri mempertimbangkan banyak hal.

Tentu sang menteri akan mendengar arahan presiden (jika ada). Bahkan juga arahan ketum PDIP (jika ada).

Bisa pula, dua versi demokrat ini, Ia ambangkan saja. Ini sudah cukup untuk membuat versi manapun tak lagi beroposisi dengan pemerintah. 

-000-

Bahkan di era reformasi, kita sudah cukup menyaksikan. Aneka partai politik direbut dan lepas dari patron utamanya.

PKB Cak Imin lepas dari Gus Dur. Partai Berkarya Muchdi PR lepas dari Tommy Suharto. PAN Zulkifli Hasan lepas dari Amien Rais. 

Dulu, Golkar juga sempat terbelah antara Golkar Aburizal Bakrie versus Golkar Agung Laksono. Akhirnya kedua kubu itu bersatu dibawah ketum alternatif: Airlangga Hartarto.

Untuk banyak kasus, partai itu lepas dari patron utama ketika sang patron utama beroposisi terhadap pemerintah (presiden). Pihak di dalam partai bermanuver, melawan sang patron. 

Akhirnya, sang patron utama dikalahkan dan ditinggalkan.

Akankah Realpolitik membuat Partai Demokrat versi KLB yang menang dan meninggalkan SBY?

Kita belum tahu apa yang akan terjadi. Realpolitik adalah satu hal. 

Tapi rasa sedih kita melihat mudahnya partai politik terubrak- abrik, adalah hal lain lagi.*

Maret 2021

CATATAN

1. Realpolitik itu sejenis hukum besi dunia politik praktis yang acapkali menujukan bahwa yang memenangkan politik di dunia nyata itu bukan etika atau moralitas.

en.m.wikipedia.org › wiki › Realpol...Web resultsRealpolitik - Wikipedia

Sumber tulisan: Facebook DennyJA_World https://
www.facebook.com/100044483107470/posts/287696326056469/?d=n

Tags

Abdurrahman Wahid (1) Agama (3) Ahok (1) Aneh Nyata (9) Arabisasi (1) Arti Politik (1) Bahaya Game (1) Bahaya Gula (1) Bahaya Nasi (1) Bali (1) Batik (1) Batu Giok (1) Belas Kasihan (1) Berita Hoax (1) Biji Bijian (1) Biografy (2) Birgaldo Sinaga (1) Bisnis Wisata (1) Bom Nuklir (1) Bom Nunklir (1) Buddhist (1) Buku (1) Cerdas Kreatif (1) Croc Brain (1) Dana Trading (1) Definisi Politik (2) Demokrasi (1) Demokrasi Pancasila (2) Denny JA (2) Desain Logo (1) Disney Land (1) Dokumen Rahasia (1) Ego Pengertian (1) Egoisme (1) Egoistis (1) Egosentris (1) Ekonomi (1) Filsafat Politik (2) Foto Grafer (1) Fungsi Air Putih (1) Fungsi Lada Hitam (1) Fungsi Makanan (1) Fungsi Smartphone (1) Gaptek (1) Ginjal (1) Harta Karun (1) Hypnowriting Teknik (1) Identias (1) Imlek (1) Inspirasi (74) Islam Nusantara (1) Jembatan (1) Kaki Diatas (1) Kasih Sayang (1) Kebaikan (1) Kebebasan (1) Kebiasaan Buruk (1) Kekuatan Super (1) Kelompok Radikal (1) Kenali Berita (1) Kesehatan (3) Kesejahteraan Rakyat (1) King Kobra (1) Kisah Nyata (2) Konsumsi Berlebihan (1) Kota Hindu (1) Kritik Bill Gates (1) Kuliner (14) Liberalisme (1) Lifestyle (23) Lintas Agama (2) Lukisan (1) Lukisan Istana (1) Manfaat Trading (1) Manusia Modern (1) Melawan Kanker (1) Memilih Profesi (2) Memutihkan Baju (1) Menghindari Semut (1) Mengkilapkan Kaca (1) Meritokrasi (1) Merusak Mobil (1) Michelle Obama (1) Miras (1) Mobil Listrik (1) Momen Wisuda (1) Motivasi (1) Nasib Manusia (1) Nasihat Bijak (3) Negara Meritokrasi (1) NKRI (1) Obat Kanker (1) Oligarchy (1) Pahlawan (1) Pancasila (1) Para Jomblo (1) Pembasmi Kanker (1) Pembunuhan (1) Pengemis Gombal (1) Pengetahuan Praktis (1) Penuan Kulit (1) Penyeberangan (1) Penyerap Racun (1) Pertarungan BruceLee (1) PKI (1) Politik (1) Politik LN (2) Politik Praktis (1) Prajurit Kostrad (1) Pribumi (1) Produk Kecantikan (1) Pulau Terindah (1) Radikalisme (2) Ragam (122) Renunang (1) Renungan Cerdas (4) Resensi Buku (1) Sejarah (2) Sejarah Presiden RI (1) Seni Hias Kue (1) Situasi Darurat (1) Soekarno (1) Sukses Hidup (1) Suku Tionghoa (1) Taman Hias (1) Tank Tentara (1) Tekno (44) Telinga (1) Tingkah Laku (1) Tionghoa (1) Tips (104) Tokoh Dunia (2) Toleransi (1) Trik Belajar (1) Turunkan Berat (1) Uang Kotor (1) Waw (1) Wisata (1) Wow (171)