Latest News

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2021

Kapitayan : Agama Kuno Penghuni Nusantara

Kapitayan : Agama Kuno Penghuni Nusantara

Nusantara itu tidak mempunyai agama, karena hidup itu sendiri merupakan laku Gama. Gama adalah hukum semesta, jadi agama adalah a artinya menjalankan atau melakukan atau melaksanakan gama.

Itulah senabnya di dalam kamus bahasa Jawa Kuna (lebih kuna drp bhs Sanskerta) tidak mencantumkan entri hindu, buddha, dan yang lainnya.

Kata kapitayan itu berasal dari asal kata kapi dan taya an

Kapi itu awalan kata yg maknanya melakukan. Taya artinya suwung. Masyarakat Nusantara kuno percaya bahwa ada pencipta atau sumber keberadaan yang tak teridentifikasi tetapi ketertiban hukumnya itu cetha, jelas di alam ini sesuai dengan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, agama dalam pengertian seperti sekarang belum ada.

Bagi Jawa (bukan etnis), wujud kehadiran Tuhan Yang Mahasuwung itu adalah Hyang Si Wa. Ini bukan Syiwa Hindu. Dia adalah Hyang  Si kata sandang kemuliaan, dan Wa (nyata, terang, cerah, air kehidupan). Dalam keseharian, wa menjadi way atau wé yang artinya air atau sungai. Kehadiran Hyang Si Wa ini dicandikan yang dinamakan Prambhanan, para + bhan + an, yang artinya tempat mbhan (Hyang Menerangi, Hyang Memelihara dan Mengasuh). Ingat kata mbok mban.

Tuhan dalam konsep Taya (Suwung) dicandikan sebagai Bharabudur (bhara = besar, budur = perkasa).

Ketika Tuhan dikonsepsikan sebagai sosok yang nyata, terang, cerah, disebut Hyang Si Wa, dan dicandikan sebagai Prambhanan. Sebenarnya Borobudur dan Prambanan bukan candi Buddha dan Hindu, tetapi dialektika rwabhinneda sebagai manufestasi loro ning atunggal.

Source :  https://lintasanpikiranblog.wordpress.com/2017/08/29/kapitayan-agama-kuno-penghuni-nusantara/

=============

Pada waktu agama Islam masuk ke tanah Jawa, keadaan masyarakat boleh dikatakan masih memeluk agama Hindu dan Budha. Disamping itu mereka juga masih berpegang teguh pada adat-istiadat serta kepercayaan lama yang dipusakainya dari nenek moyang mereka. Sebagaimana diketahui, sebelum kedatangan agama Hindu dan Budha, masyarakat di Jawa percaya kepada Animisme.[1]

Namun, sebenarnya kepercayaan animisme yang diketahui sebagai kepercayaan yang dianut oleh penduduk Jawa sebelum kedatangan Hindu dan Budha itu, adalah agama kuno penduduk Nusantara, yang di pulau Jawa disebut Kapitayan[2]. Kapitayan adalah agama kuno yang tumbuh dan berkembang di Nusantara semenjak berkembangnya kebudayaan Kala Paleolithikum, Messolithikum, Neolithikum, Megalithikum, yang berlanjut pada kala perunggu dan besi. Paleolithikum adalah Zaman Batu Tua. Zaman prasejarah yang bermula kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM – 10.000 SM.[3]

Dalam keyakinan penganut Kapitayan di Jawa, leluhur yang pertama kali dikenal sebagai penganjur Kapitayan adalah tokoh mitologi Danghyang Semar putra Sanghyang Wungkuhan keturunan Sanghyang Ismaya. Secara sederhana Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya,[4] yang bermakna Hampa, Kosong, Suwung, atau Awang-uwung. Taya bermakna Yang Absolut, yang tidak bisa dipikir dan dibayang-bayangkan. Tidak bisa didekati dengan Pancaindra. Kata Awang-uwung bermakna ada tetapi tidak ada, tidak ada tetapi ada. Untuk itu, supaya bisa dikenal dan disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat ilahiah yang disebut Tu atau To, yang bermakna ‘daya gaib’ bersifat adikodrati[5].

Tu atau To adalah tunggal dalam Zat. Satu pribadi. Tu lazim disebut dengan Sanghyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ketidakbaikan. Tu yang bersifat kebaikan disebut Tu-han yang sering disebut dengan nama Sanghyang Wenang. Sedang Tu yang bersifat ketidakbaikan disebut han-Tu yang sering disebut dengan nama Sang Manikmaya. Demikianlah Sanghyang Wenang dan Sang Manikmaya pada hakikatnya adalah sifat saja dari Sanghyang Tunggal. Karena itu Sanghyang Tunggal pada dasarnya bersifat gaib, tidak dapat didekati dengan pancaindra maupun dengan akal pikiran. Sanghyang Tunggal hanya diketahui sifat-Nya saja.[6

Oleh karena Sanghyang Tunggal itu bersifat gaib, maka untuk memuja-Nya dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati pancaindra dan alam pikiran manusia. Demikianlah didalam ajaran Kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan gaib dari Sanghyang Taya  yang mempribadi (yang disebut Tu atau To) itu ‘tersembunyi’ di dalam segala sesuatu yang memiliki berkaitan dengan kata Tu atau To seperti : wa-tu (batu), tu-ngkub (bangunan suci), tu-lang, tu-nda (bangunan bertingkat, punden berundak), tu-nggul (panji-panji), to-peng, to-pong (mahkota), to-ya (air), dan sebagainya.[7] Dalam rangka melakukan puja bakti kepada Sanghyang Tunggal.

Penganut Kapitayan menyediakan sesaji berupa tu-mpeng, tu-mpi (kue dari tepung), tu-mbu (keranjang persegi dari anyaman bambu untuk tempat bunga), tu-ak (arak), tu-kung (sejenis ayam), untuk dipersembahkan kepada Sanghyang Tunggal yang daya gaib-Nya tersembunyi pada segala sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib seperti wa-tu (batu), tu-ngkub (bangunan suci), tu-lang, tu-nda (bangunan bertingkat, punden berundak), tu-nggul (panji-panji), to-peng, to-pong (mahkota), to-ya (air), dan sebagainya. Para penganut Kapitayan yang bermaksud melakukan tu-ju (tenung[8]) atau memiliki keperluan lain yang mendesak, akan memuja Sanghyang Tunggal dengan persembahan khusus yang disebut tu-mbal.

Berbeda dengan pemujaan yang dilakukan masyarakat awam dengan persembahan sesaji-sesaji di segala sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Para Rohaniawan Kapitayan beribadah kepada Sanghyang Taya secara langsung, di suatu tempat bernama sanggar, yaitu bangungan persegi empat beratap tumpang dengan tu-tuk(lubang ceruk) di dinding sebagai lambang kehampaan Sanghyang Taya.

Dalam bersembahyang menyembah Sanghyang Taya di sanggar itu, para Rohaniawan Kapitayan mengkuti aturan tertentu : mula-mula, sang Rohaniawan yang sembahyang melakukang tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tu-tuk (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sanghyang Taya bersemayam di dalam tu-tud (hati). Setelah merasa Sanghyang Taya bersemayam di dalam tu-tud (hati), kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada, tepat pada hati. Posisi ini disebut swa-dikap (memegang ke-aku-an diri pribadi). Proses tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo relatif lama.

Setelah tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama. Lalu dilanjutkan lagi dengan posisi tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir, dilakukan posisi to-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). Selama melakukan tu-lajeg, tu-ngkul, tu-lumpuk, dan to-ndhem dalam waktu satu jam lebih itu, Rohaniawan Kapitayan dengan segenap perasaan berusaha menjaga keberlangsungan keberadaan Sanghyang Taya yang sudah disemayamkan di dalam tu-tud (hati).

Seorang hamba pemuja Sanghyang Taya yang dianggap saleh akan dikaruniai kekuatan gaib yang bersifat positif (tu-ah) dan yang bersifat negatif (tu-lah). Mereka yang sudah dikaruniai tuah dan tu-lah itulah yang dianggap berhak menjadi pemimpin masyarakat. Yang akan diberi gelar dengan sebutan : ra-tu atau dha-tu.[9]

catatan kaki :

[1] Solihin Salam, Sejarah Islam di Jawa. Jakarta: Jayamurni, 1964, hlm.23

[2] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo : Buku Pertama Yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN,2012,hlm.12

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Paleolitikum

[4] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo : Buku Pertama Yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN,2012, hlm.13

[5] Menurut KBBI, adikodrati adalah kata sifat yang bermakna melebihi atau diluar kodrat alam; supernatural(tidak dapat diterangkan dengan akal sehat)

[6] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo : Buku Pertama Yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN,2012, hlm.13

[7] Ibid,hlm.14

[8] Menurut KBBI tenung adalah 1. kepandaian dan sebagainya untuk mengetahui (meramalkan) sesuatu yang gaib (seperti meramalkan nasib, mencari orang hilang) 2. ilmu hitam untuk mencelakakan orang;

[9] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo : Buku Pertama Yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN,2012, hlm.15




Senin, 01 Maret 2021

KOMPLEKSITAS AGAMA BAHKAN DI ERA GOOGLE

 
*KOMPLEKSITAS AGAMA* 
*BAHKAN DI ERA GOOGLE*
Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021

Amanah Nurish
(Antropolog Agama, SKSG – Universitas Indonesia)

 
Buku anyar yang dilahirkan Denny JA berjudul “Pemahaman Agama di Era Google” terbit awal tahun 2021 telah memberi perspektif baru mengenai relasi agama dan teknologi. 

Buku ini tidak hanya membahas isu agama di era Google yang menyuguhkan perspektif berbeda. Namun menariknya di beberapa bagian buku ini seolah mengajak kita untuk berziarah kembali pada persoalan mitologi dari zaman pra sejarah hingga abad modern. 

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh semua kalangan masyarakat.
 
-000-

Berbicara mengenai pemahaman agama, mengingatkan saya pada sebuah kisah pertemuan para pemimpin persekutuan gereja Inggris di tahun 1960an. 

Pada momen itu terjadi perbincangan antara pemimpin gereja persekutuan Komuni Anglikan dan Pangeran Phillip Montbatten—suami perempuan nomor satu di Britania Raya, Ratu Elizabeth II. 

Jenderal Angkatan Laut ini mengisahkan dirinya yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya berkeliling dunia; jalur laut, darat, hingga udara. 

Telah ia jelajahi dengan aneka pesawat jet, kapal pesiar, dan deretan fasilitas mobil termewah. 

Laki-laki berdarah Yunani dan putra dari seorang biarawati, Pangeran Philip Mountbatten, membahas secara diplomatis bagaimana soal perkembangan dunia modern dan peran agama.

Sebagai negara koloni nomor wahid di dunia, Inggris paling handal menunjukkan wajah ambivalen. Di satu sisi, Ia berhasrat menjadi simbol negara maju, berperadaban, dan modern.

Namun di sisi lain, Ia ingin terus mempertahankan tradisi feodal. Inggris tetap mengawinkan hubungan agama dan gereja. Dua institusi ini tetap berjalan, bergandengan  dengan mesra. 

Politik monarki jenis ini bertujuan untuk mempertahankan stabilitas politik. Ia tidak mempedulikan rakyat sipil terkoyak akibat kekerasan hukum yang telah dibuat sepihak oleh monarki dan gereja yang kurang relevan di era modern.

Suami Ratu Elizabeth II dalam pertemuan itu sedang melakukan “pengakuan dosa” atas perasaan cemas yang telah membelenggu dan membuat hatinya merintih. 

Dalam pengakuannya, pangeran Philip mengatakan telah kehilangan kepercayaan dan krisis keimanan di tengah kondisi dunia modern yang semakin kompleks. 

*“Pengakuan dosa” suami Ratu Elizabeth II ini menjadi “noktah merah.” Betapa saat ia mengalami krisis keimanan dan keyakinan sebagai umat Kristiani, Ia telah dihadapkan pada goncangan batin, kegalauan, kesepian, dan kehampaan yang membuat jiwanya rapuh.* 

Pengeran Philip yang sebelumnya dikenal sebagai sosok sekuler di kalangan aristokrat Buckingham mengakui bahwa keyakinan terhadap agama menjadi salah satu obat untuk menjawab kegelisahannya. 

Kisah ini memang paradoks, ketika di antara sebagian besar wilayah Eropa termasuk negara-negara Skandinavia mengalami sekularisasi justru wilayah Inggris ingin melanggengkan tradisi Kristen dalam lingkaran monarki.

Sementara di belahan dunia lain, sebut saja wilayah Asia berkembang hal berbeda. Wilayah Asia pernah dianggap dan dipandang sebelah mata oleh sebagian negara Barat. 

Wilayah ini dipandang sebagai masyarakat yang mundur serta tidak berperadaban.

Tapi pada periode yang sama yakni 1960-an, di wilayah ini, justru ideologi modern saat itu, sosialisme mendapat tempat perhatian dan gairah yang luar biasa.

Dengan terang ideologi ini juga melawan peran agama. Saat itu agama dianggap berkontribusi atas penindasan. 

Masih segar di ingatan kolektif kita soal  fakta sejarah itu. Di tahun 1960-an benturan agama dan politik semakin menjadi-jadi di berbagai negara. Terutama di negara-negara bekas jajahan.
( _*baca lebih lengkap artikel menarik di bawah ini ...*_👮👰👱👇 )   https://artikel.iniok.com/2021/03/kompleksitas-agama-bahkan-di-era-google.html
-000-
 
Sebagai karya populer, buku karya Denny JA ini menginspirasi kita untuk melihat kembali secara jernih bagaimana ontologi agama mengalami reduksi di era internet.

Ada kritik mendasar dari gagasan Denny JA mengenai “Pemahaman Agama di Era Google” yang ia paparkan secara keseluruhan. 

*Pertama, pemahaman agama dalam masyarakat tidak bisa dinilai secara positivistik yang hanya berpijak pada angka-angka statistik dan indeks ekonomi.* 

Dalam konteks kepercayaan agama di era internet ini saya ingin meminjam pemikiran Slavo Zizek, filsuf asal Slovenia. Ia mengatakan bahwa setiap manusia memiliki simpul Gnostisisme. 

Percik cahaya ketuhanan menyatukan Zat Tertinggi dengan keberadaan kita sehari-hari.

Kita tidak menyadari percik cahaya itu. KIta tidak tahu percikan ketuhanan itu karena terjebak dalam kebekuan realitas material (Zizek, 2019: 14).

Kedua, ada kesan bahwa cara pandang Denny JA dalam melihat dan menyimpulkan agama masih terjebak pada pandangan pos-sekularisme. 

Pandangan ini mengutamakan kesejahteraan sosial. Tapi paham kesejahteraan sosial didasarkan pada pembangunan ekonomi dan produk hukum modern. 

Menurut saya, parameter ini tidak bisa dipaksakan untuk mengukur karakter bangsa-bangsa lain, seperti Indonesia. 

Karena jelas untuk berbagai negara Asia, misalnya, mereka berbeda secara kultural, ras, etnis, bahasa, dan seluruh aspek fisiologi. 

Perbedaan ini menyebabkan perbedaan dalam memaknai agama dan kepercayaan.

Lihatlah Negara-negara yang dianggap makmur, aman, bahagia, dan sejahtera secara ekonomi. Itu list negara  yang masuk top 10 (Finland, Denmark, Switzerland, Iceland, Norway, Netherlands, Sweden, New Zealand, Austria, dan Luxemburg).

*Kultur dalam Top 10 negara memandang nilai metafisika yang non materi sebagai mitos dan takhayul belaka.*

Perasaan sedih, gelisah, menderita, atau bahagia seolah-olah hanya bisa diterjemahkan oleh jumlah kapital dalam bentuk angka statistik.

Padahal kuktur di bagian dunia lain menganggap bahagia sebagai bentuk rasa yang abstrak. Ia tak bisa dihitung secara matematika.

Perbedaan kultur menyebabkan perbedaan dalam memahami agama dan kebahagiaan.

-000-


Kaum  sekuler pernah meramalkan agama akan lesu di tengah perkembangan teknologi. Ternyata yang terjadi justru malah sebaliknya. 

Agama justru semakin melekat pada negara dan bangsa-bangsa. Gejala populisme dan fanatisme keagamaan justru  marak di berbagai belahan dunia.

*Menurut hemat saya, peran agama di era internet ini ibarat tablet-tablet pil yang secara massif diproduksi perusahaan farmasi untuk mengobati para pasien yang sedang mengalami pesakitan.* 

Dari masing-masing jenis tablet itu terdapat dosis yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas dan kekuatan tubuh manusia dalam mengonsumsi. 

Sayangnya, tidak semua manusia bisa diperlakukan sama ketika sakit harus diberi tablet pil.

Sebagian manusia masih ada yang menjalani hidup secara organik dan tidak tergantung pada tablet-tablet pil kimia.  

Mereka masih percaya dengan ramuan-ramuan tradisional sebagai kearifan lokal dalam menyelesaikan dan menyembuhkan penyakit yang menjalar di tubuhnya. 

*Artinya, agama dan kepercayaan meskipun mengalami perkembangan dan pergeseran namun ajaran-ajaran leluhur masih tetap bisa dipertahankan untuk mencapai nilai-nilai kebijaksanaan.*

Bukankah ini juga merupakan kekayaan kultural yang perlu kita jaga?

Inilah salah satu fakta bahwa agama di era internet ini sangat bersifat dinamis dan relatif. Agama tidak statis dan kaku. 

*Masjid, gereja, kuil, dan tempat-tempat ibadah berpindah menjadi YouTube, Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, Telegram, dan berbagai aplikasi virtual lainnya* .  

Tapi fenomena agama, kapanpun, sulit dipisahkan dari kehidupan manusia.*

-Buku Denny JA yang direview dapat dibaca, diunduh, dicetak dan disebar melalui link
https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/1596857733835656/

Kamis, 25 Februari 2021

MASA DEPAN AGAMA

*MASA DEPAN AGAMA*
Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021)

Luthfi Assyaukanie
 
Buku terbaru Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama (2021), mengulas dua hal pokok. 

Pertama, peran agama bagi kehidupan manusia modern. Kedua, temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan beberapa doktrin agama. 

Pada isu pertama, Denny JA menampilkan sejumlah data yang mengkontraskan pencapaian-pencapaian suatu negara dengan peran agama di dalamnya. Data-data itu diambil dari berbagai lembaga penelitian dunia, yang biasa melakukan riset tentang demokrasi, kesejahteraan, kebahagiaan, pendidikan, dan beberapa isu lain.
 
Yang menarik dari data-data itu, semakin maju dan sejahtera suatu negara, semakin mereka tak memerlukan--atau tak menganggap penting—agama. 

Denny memperlihatkan 10 negara paling bahagia sedunia, yang mayoritas warganya skeptis atau agnostik terhadap agama. 

Sebagian besar mereka adalah negara-negara Skandinavia dan negara-negara Eropa. Sebaliknya, secara kontras, data-data itu menunjukkan, semakin terbelakang suatu negara, semakin mereka percaya pada agama. 

Negara-negara yang berada di urutan bawah dalam hal kesejahteraan, kebahagiaan, dan kebersihan, umumnya adalah negara-negara yang warganya sangat percaya pada agama. 

India dan Indonesia adalah contoh negara yang tingkat kesejahteraan dan kebersihannya rendah, tapi memiliki kepercayaan pada agama yang sangat tinggi.
 
Pada isu kedua, Denny JA mengemukakan sejumlah pertanyaan kritis terkait doktrin dan keyakinan agama. Lalu, Denny mengkontraskannya dengan temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan keyakinan itu. 

Misalnya, tokoh Musa menurut temuan ilmiah hanyalah fiksi, banjir Nuh tak pernah terjadi, dan pusat penyebaran Islam adalah Petra di Yordania, bukan di Mekkah.
 
Saya ingin mengulas dua isu itu dengan perspektif yang agak berbeda dari cara pandang Denny. 

Jika pada isu pertama Denny JA kelihatan cukup tegas dalam menyatakan bahwa agama memang tidak atau kurang memiliki relevansi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, pada isu kedua, dia tampak “labil” dan memilih sikap “politically correct,” ketimbang mengambil sebuah posisi tegas sebagai konsekuensi dari data-data yang dimilikinya. 

Berkali-kali Denny mengatakan bahwa agama masih tetap relevan dan berguna bagi kehidupan personal manusia. Untuk menguatkan sikapnya, dia bercerita pengalaman pribadinya dalam beragama, termasuk mengerjakan umrah sebanyak empat kali ke tanah suci Mekkah.
 
 
Agama dan Keterbelakangan

Sebagian besar negara yang mengalami defisit demokrasi, kebahagiaan, dan kesejahteraan adalah negara-negara muslim. 

Pertanyaan yang harus diajukan adalah mengapa negara-negara muslim terbelakang atau tertinggal dari negara-negara lainnya? 

Mengapa negara-negara Barat mengalami kemajuan yang luar biasa sementara kaum muslim mengalami kemunduran? 

Semua pencapaian yang direkam dalam indeks pencapaian dunia, baik itu demokrasi, kesejahteraan, maupun kebahagiaan, terkait erat dengan pertanyaan ini. 

Jadi, jika kita ingin tahu mengapa masyarakat maju menganggap agama tak penting sementara masyarakat terbelakang menganggap agama penting, kita harus menjawab dulu mengapa sebuah masyarakat menjadi terbelakang.
 
Karena keterbatasan ruang, saya ingin fokus pada masyarakat muslim saja. Saya ingin menjawab pertanyaan mengapa kaum muslim terbelakang?
 
Ada banyak studi yang mencoba menjelaskan mengapa kaum muslim mundur padahal mereka pernah mengalami kejayaan (abad ke-7 hingga ke-12). 

Studi mutakhir dilakukan oleh Ahmet Kuru dalam bukunya, Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment (2019). Dalam buku yang banyak menyita perhatian akademis ini, Kuru menyimpulkan bahwa sebab utama kemunduran kaum muslim adalah akibat aliansi ulama dan negara. 

Aliansi ini sudah ada sejak formasi kerajaan Islam, tapi semakin menguat sejak abad ke-11. Kuru berpandangan bahwa aliansi ulama-negara tak hanya melemahkan peran kelas menengah (borjuasi) yang sebelum abad ke-11 mendominasi struktur masyarakat muslim, tapi, aliansi itu juga memperkuat otoritarianisme negara.
 
Aliansi itu sendiri menguat karena desakan situasi yang dialami kekhalifahan Islam. Menjelang abad ke-10, kekhalifahan Islam tercerai-berai menjadi beberapa kerajaan besar dan kecil. 

Ada Fatimiyah di Mesir dan Maroko, Idrisiyah di Maghribi, Buwayhid di Iran, Alawiyah di Irak, dan Karamitah di Yaman. 

Pemberontakan di mana-mana dan sekte-sekte Islam non-Sunni mendirikan kerajaan mereka sendiri. Untuk mengatasi situasi itu, al-Qadir (947-1031), khalifah ke-25 Abbasiyah, meluncurkan program penangkalan dengan merekrut sejumlah ulama. 

Para ulama ini dipekerjakan untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang diproduksi penguasa. Pada 1011, al-Qadir mengeluarkan dekrit yang dikenal dengan “Manifesto Baghdad.” 

Isinya, memerangi kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan dengan penguasa. Target utama dekrit ini adalah kaum Syiah, Mu’tazilah dan kelompok-kelompok Khawarij.
 
Para ulama memainkan peran besar dalam melancarkan kampanye pemberangusan dan penumpasan terhadap kelompok-kelompok non-Sunni itu. 

Hanya dalam dua generasi, kampanye itu berhasil. Kerajaan-kerajaan Syiah satu-persatu tumbang dan kekuatan Sunni terkonsolidasi. 

Untuk menyemai Doktrin Al-Qadir lebih dalam, penguasa Sunni membangun lembaga pendidikan. Salah satunya adalah Sekolah Nizamiyah yang dibangun untuk menguatkan ortodoksi Sunni. 

Berbeda dari sekolah-sekolah pra-abad ke-11, kurikulum Nizamiyah tidak memasukkan mata pelajaran umum. Sains, Kedokteran, dan Matematika dikeluarkan dari daftar pengajaran. Filsafat diajarkan bukan untuk mengembangkannya, tapi sebagai alat untuk menyerang para filsuf.
 
Sejak saat itu, menurut Kuru, kaum muslim mengalami kemunduran. Yang paling parah adalah kemunduran intelektual. 

Terbukti, setelah kerajaan-kerajaan Islam meraih kejayaan militernya kembali (di bawah Ottoman, Safawiyah, dan Mughal), produksi pengetahuan mengalami kemunduran serius. 

Dunia Islam tak lagi memproduksi sarjana-sarjana besar sekaliber al-Khawarizmi, Ibn Haytham, Abu Bakar Al-Razi, Al-Farabi, dan Ibn Sina. 

Memasuki abad ke-15 Eropa menjalani renaissance dan memulai revolusi pengetahuan dan industri. Sementara, dunia Islam memasuki masa stagnasinya. 

Masa kemandekan intelektual ini berujung pada kolonialisme. Pada abad ke-19 dan ke-20, hampir seluruh negara muslim berada di bawah kekuasaan penjajah Eropa.
 
Singkatnya, aliansi ulama-negara adalah penyebab dan biang keladi dari kemunduran kaum muslim. Meski saya memiliki sejumlah kritik terhadap Kuru (saya pernah menulis hal ini di Jalankaji.com), masuknya agama ke dalam negara (lewat ulama) adalah penyebab kemunduran kaum muslim. 

Di mana-mana, agama adalah penyebab kemunduran. Selama masa kegelapan, kehidupan bangsa Eropa didikte oleh agama. Dan mereka bisa keluar dari kegelapan, salah satunya, adalah dengan melawan agama. 

Selama ulama terus mendikte negara, tak mungkin suatu negara bisa maju. Karakter ulama adalah konservatif. Inti ajaran konservatisme adalah menghalangi perubahan.
 
 Masa Depan Agama
 
Isu kedua, tentang relevansi agama. Apakah agama masih relevan buat manusia modern? Bagaimana masa depan agama? 

Satu hal yang banyak orang tidak sadari adalah bahwa agama merupakan ciptaan manusia. 

Agama diciptakan sebagai bagian dari proses evolusi manusia yang panjang. Agama baru hadir di dunia ini sekitar 70 ribu tahun silam. Manusia modern (homo sapiens) sudah ada lebih dari 200 ribu tahun lalu. 

Agama-agama utama yang kita kenal sekarang (Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan agama-agama China) lebih baru lagi. 

Semuanya baru muncul di era kultivasi setelah revolusi pertanian (agriculture revolution). Yahudi baru muncul pada abad ke-15 SM, Hindu abad ke-8 SM, Budha abad ke-5 SM, Kristen abad pertama, dan Islam abad ke-6. 

Agama-agama Mesir Kuno dan Babilonia sudah muncul bahkan jauh lebih awal dari agama-agama “samawi” ini.
 
Mengapa agama muncul? Sebagai fenomena spiritual, agama muncul sebagai akibat dari revolusi kognisi pada manusia. 

Para ilmuwan sepakat, revolusi kognisi ini terjadi antara 70 ribu hingga 75 ribu tahun silam. Yuval Noah Harari menyebut mutasi gen sebagai salah satu sebabnya (Sapiens, 2011). 

Dengan struktur otak yang baru, manusia memiliki kemampuan melebihi rata-rata hewan lainnya. Salah satu kemampuan yang tak dimiliki hewan-hewan lain adalah imaginasi. 

Manusia bisa mengimaginasikan apa saja, merangkai gambar dan bentuk dari pengalaman-pengalaman personalnya. 

Mereka bisa membayangkan makhluk yang secara real tidak ada wujudnya: kuda terbang, gajah bertangan delapan, setan, iblis, memedi, genderuwo, kuntilanak, malaikat, peri, tuhan, dan lain-lain. 

Revolusi kognisi mendorong manusia menjadi makhluk yang kreatif. Mereka tak hanya mampu menaklukkan api dan membuat jarum, tapi juga pandai mereka makhluk-makhluk jejadian.
 
Agama sebagai fenomena spiritual mendapatkan peran fungsionalnya saat revolusi pertanian, ketika manusia memutuskan hidup menetap, setelah lebih dari 200 ribu tahun mengembara sebagai makhluk nomaden. 

Dengan menetap, manusia memiliki waktu luang berlebih. Mereka tak perlu lagi berburu, karena makanan telah tersedia di lumbung-lumbung gandum dan ternak-ternak yang mereka domestikasi. 

Yang perlu mereka pikirkan adalah bagaimana mengatur tetangga dan orang lain agar tidak saling mencuri. Dari sinilah muncul gagasan pemerintahan dan agama. 

Pemerintah sebagai pengatur dan agama sebagai aturannya. Agama-agama yang kita kenal sekarang adalah produk revolusi pertanian. 

Fungsinya sama seperti negara: mengatur manusia agar tidak saling menyerobot, mencuri, atau membunuh.
 
Pertanyaan apakah agama masih relavan sangat terkait dengan dua fungsi agama di atas. 

Sebagai fenomena spiritual, agama terus tumbuh. Kemampuan imajinasi manusia tak terbatas. Mereka menciptakan dunia khayali yang sangat beragam. 

Setiap agama memiliki anak kandung hasil dari imaginasi-imaginasi liar pendirinya. Yahudi melahirkan Kristen. Keduanya melahirkan Islam. 

Hindu melahirkan Budha. Islam melahirkan Sunni dan Syiah. Sunni melahirkan Ahmadiyah. Syiah melahirkan Druz. 

Di dunia Kristen, jumlah anak-anaknya (berupa sekte dan denominasi) tak terhitung jumlahnya. 

Setiap ada penyendiri mengaku mendapatkan wahyu, sebuah agama baru bakal muncul. Hampir semua pendiri agama pada mulanya dianggap gila. 

Nasib mereka ditentukan oleh seberapa banyak mereka mampu merekrut pengikut. Jika gagal, mereka akan dianggap pendusta. Jika sukses, mereka akan dianggap nabi.
 
Sebagai institusi, agama lambat-laun kehilangan relevansinya. 

Hanya sedikit negara di dunia ini yang mengadopsi agama sebagai “panduan” bagi kehidupan mereka, seperti terjadi pada zaman axial dan abad pertengahan. 

Sebagian besar negara sekarang ini membuat sendiri aturan pemerintahan yang umumnya bersifat sekuler. 

Semakin sekuler sebuah pemerintahan, semakin besar potensinya untuk berkembang. Semakin religius sebuah pemerintahan, semakin besar peluangnya untuk terbelakang. 

Demokrasi dan kebebasan akan berkembang dengan baik pada pemerintahan yang sekuler, yang jauh dari intervensi agama. Dengan kata lain, sebagai institusi, agama semakin tidak relevan buat kehidupan manusia modern.
 
Lalu, bagaimana masa depan agama? Denny JA menulis bahwa agama memiliki seribu nyawa. Artinya, agama tak akan pernah mati. 

Dalam jangka pendek, tentu agama tak bakal mati. Dalam jangka panjang, agama dalam pengertian seperti yang kita pahami hari ini, pasti akan punah. 

Daniel Dennet, seorang filsuf dan aktivis gerakan Ateisme Baru, meramalkan bahwa agama akan bertahan 500 tahun lagi. 

Setelah itu, seiring dengan berubahnya peradaban manusia, berubah pula cara manusia memaknai kehidupan mereka. 

Saya sepakat dengan Dennet. Tapi, tidak sepakat soal angka. 500 tahun terlalu lama. Jika kecerdasan umum buatan (artificial general intelligent - AGI) terealisasi sebelum 2050 dan manusia bisa berintegrasi dengan mesin-mesin cerdas itu, lambat-laun agama akan mati. 

Ketika semua hal bisa diatasi manusia, termasuk mengunggah nyawa (mind uploading), ketika itulah kebutuhan terhadap agama sirna. 

Pada momen itu, kata Harari, manusia tak lagi memerlukan tuhan, karena mereka telah menjadi tuhan (homo deus). 

Dengan mempertimbangkan Hukum Moore dan melihat perkembangan teknologi dalam dua dasawarsa terakhir, saya meyakini, agama akan mati dalam 100--atau paling lambat 150--tahun lagi.**
 
Luthfi Assyaukanie. Menyelesaikan PhD-nya dalam bidang sejarah politik di Universitas Melbourne, Australia. 

Selain mengajar di Universitas Paramadina, Jakarta, Luthfi melakukan riset di sejumlah lembaga penelitian. 

Pada 2020, bersama beberapa teman dekatnya, dia mendirikan ForSains, sebuah forum untuk mendiskusikan isu-isu sains dan perubahan.

-000-
Buku Denny JA yang direview dapat dibaca, diunduh, dicetak dan disebar melalui link
https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/1596857733835656/

Tags

Abdurrahman Wahid (1) Agama (3) Ahok (1) Aneh Nyata (9) Arabisasi (1) Arti Politik (1) Bahaya Game (1) Bahaya Gula (1) Bahaya Nasi (1) Bali (1) Batik (1) Batu Giok (1) Belas Kasihan (1) Berita Hoax (1) Biji Bijian (1) Biografy (2) Birgaldo Sinaga (1) Bisnis Wisata (1) Bom Nuklir (1) Bom Nunklir (1) Buddhist (1) Buku (1) Cerdas Kreatif (1) Croc Brain (1) Dana Trading (1) Definisi Politik (2) Demokrasi (1) Demokrasi Pancasila (2) Denny JA (2) Desain Logo (1) Disney Land (1) Dokumen Rahasia (1) Ego Pengertian (1) Egoisme (1) Egoistis (1) Egosentris (1) Ekonomi (1) Filsafat Politik (2) Foto Grafer (1) Fungsi Air Putih (1) Fungsi Lada Hitam (1) Fungsi Makanan (1) Fungsi Smartphone (1) Gaptek (1) Ginjal (1) Harta Karun (1) Hypnowriting Teknik (1) Identias (1) Imlek (1) Inspirasi (74) Islam Nusantara (1) Jembatan (1) Kaki Diatas (1) Kasih Sayang (1) Kebaikan (1) Kebebasan (1) Kebiasaan Buruk (1) Kekuatan Super (1) Kelompok Radikal (1) Kenali Berita (1) Kesehatan (3) Kesejahteraan Rakyat (1) King Kobra (1) Kisah Nyata (2) Konsumsi Berlebihan (1) Kota Hindu (1) Kritik Bill Gates (1) Kuliner (14) Liberalisme (1) Lifestyle (23) Lintas Agama (2) Lukisan (1) Lukisan Istana (1) Manfaat Trading (1) Manusia Modern (1) Melawan Kanker (1) Memilih Profesi (2) Memutihkan Baju (1) Menghindari Semut (1) Mengkilapkan Kaca (1) Meritokrasi (1) Merusak Mobil (1) Michelle Obama (1) Miras (1) Mobil Listrik (1) Momen Wisuda (1) Motivasi (1) Nasib Manusia (1) Nasihat Bijak (3) Negara Meritokrasi (1) NKRI (1) Obat Kanker (1) Oligarchy (1) Pahlawan (1) Pancasila (1) Para Jomblo (1) Pembasmi Kanker (1) Pembunuhan (1) Pengemis Gombal (1) Pengetahuan Praktis (1) Penuan Kulit (1) Penyeberangan (1) Penyerap Racun (1) Pertarungan BruceLee (1) PKI (1) Politik (1) Politik LN (2) Politik Praktis (1) Prajurit Kostrad (1) Pribumi (1) Produk Kecantikan (1) Pulau Terindah (1) Radikalisme (2) Ragam (122) Renunang (1) Renungan Cerdas (4) Resensi Buku (1) Sejarah (2) Sejarah Presiden RI (1) Seni Hias Kue (1) Situasi Darurat (1) Soekarno (1) Sukses Hidup (1) Suku Tionghoa (1) Taman Hias (1) Tank Tentara (1) Tekno (44) Telinga (1) Tingkah Laku (1) Tionghoa (1) Tips (104) Tokoh Dunia (2) Toleransi (1) Trik Belajar (1) Turunkan Berat (1) Uang Kotor (1) Waw (1) Wisata (1) Wow (171)