Latest News

Kamis, 25 Februari 2021

MASA DEPAN AGAMA

*MASA DEPAN AGAMA*
Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021)

Luthfi Assyaukanie
 
Buku terbaru Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama (2021), mengulas dua hal pokok. 

Pertama, peran agama bagi kehidupan manusia modern. Kedua, temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan beberapa doktrin agama. 

Pada isu pertama, Denny JA menampilkan sejumlah data yang mengkontraskan pencapaian-pencapaian suatu negara dengan peran agama di dalamnya. Data-data itu diambil dari berbagai lembaga penelitian dunia, yang biasa melakukan riset tentang demokrasi, kesejahteraan, kebahagiaan, pendidikan, dan beberapa isu lain.
 
Yang menarik dari data-data itu, semakin maju dan sejahtera suatu negara, semakin mereka tak memerlukan--atau tak menganggap penting—agama. 

Denny memperlihatkan 10 negara paling bahagia sedunia, yang mayoritas warganya skeptis atau agnostik terhadap agama. 

Sebagian besar mereka adalah negara-negara Skandinavia dan negara-negara Eropa. Sebaliknya, secara kontras, data-data itu menunjukkan, semakin terbelakang suatu negara, semakin mereka percaya pada agama. 

Negara-negara yang berada di urutan bawah dalam hal kesejahteraan, kebahagiaan, dan kebersihan, umumnya adalah negara-negara yang warganya sangat percaya pada agama. 

India dan Indonesia adalah contoh negara yang tingkat kesejahteraan dan kebersihannya rendah, tapi memiliki kepercayaan pada agama yang sangat tinggi.
 
Pada isu kedua, Denny JA mengemukakan sejumlah pertanyaan kritis terkait doktrin dan keyakinan agama. Lalu, Denny mengkontraskannya dengan temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan keyakinan itu. 

Misalnya, tokoh Musa menurut temuan ilmiah hanyalah fiksi, banjir Nuh tak pernah terjadi, dan pusat penyebaran Islam adalah Petra di Yordania, bukan di Mekkah.
 
Saya ingin mengulas dua isu itu dengan perspektif yang agak berbeda dari cara pandang Denny. 

Jika pada isu pertama Denny JA kelihatan cukup tegas dalam menyatakan bahwa agama memang tidak atau kurang memiliki relevansi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, pada isu kedua, dia tampak “labil” dan memilih sikap “politically correct,” ketimbang mengambil sebuah posisi tegas sebagai konsekuensi dari data-data yang dimilikinya. 

Berkali-kali Denny mengatakan bahwa agama masih tetap relevan dan berguna bagi kehidupan personal manusia. Untuk menguatkan sikapnya, dia bercerita pengalaman pribadinya dalam beragama, termasuk mengerjakan umrah sebanyak empat kali ke tanah suci Mekkah.
 
 
Agama dan Keterbelakangan

Sebagian besar negara yang mengalami defisit demokrasi, kebahagiaan, dan kesejahteraan adalah negara-negara muslim. 

Pertanyaan yang harus diajukan adalah mengapa negara-negara muslim terbelakang atau tertinggal dari negara-negara lainnya? 

Mengapa negara-negara Barat mengalami kemajuan yang luar biasa sementara kaum muslim mengalami kemunduran? 

Semua pencapaian yang direkam dalam indeks pencapaian dunia, baik itu demokrasi, kesejahteraan, maupun kebahagiaan, terkait erat dengan pertanyaan ini. 

Jadi, jika kita ingin tahu mengapa masyarakat maju menganggap agama tak penting sementara masyarakat terbelakang menganggap agama penting, kita harus menjawab dulu mengapa sebuah masyarakat menjadi terbelakang.
 
Karena keterbatasan ruang, saya ingin fokus pada masyarakat muslim saja. Saya ingin menjawab pertanyaan mengapa kaum muslim terbelakang?
 
Ada banyak studi yang mencoba menjelaskan mengapa kaum muslim mundur padahal mereka pernah mengalami kejayaan (abad ke-7 hingga ke-12). 

Studi mutakhir dilakukan oleh Ahmet Kuru dalam bukunya, Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment (2019). Dalam buku yang banyak menyita perhatian akademis ini, Kuru menyimpulkan bahwa sebab utama kemunduran kaum muslim adalah akibat aliansi ulama dan negara. 

Aliansi ini sudah ada sejak formasi kerajaan Islam, tapi semakin menguat sejak abad ke-11. Kuru berpandangan bahwa aliansi ulama-negara tak hanya melemahkan peran kelas menengah (borjuasi) yang sebelum abad ke-11 mendominasi struktur masyarakat muslim, tapi, aliansi itu juga memperkuat otoritarianisme negara.
 
Aliansi itu sendiri menguat karena desakan situasi yang dialami kekhalifahan Islam. Menjelang abad ke-10, kekhalifahan Islam tercerai-berai menjadi beberapa kerajaan besar dan kecil. 

Ada Fatimiyah di Mesir dan Maroko, Idrisiyah di Maghribi, Buwayhid di Iran, Alawiyah di Irak, dan Karamitah di Yaman. 

Pemberontakan di mana-mana dan sekte-sekte Islam non-Sunni mendirikan kerajaan mereka sendiri. Untuk mengatasi situasi itu, al-Qadir (947-1031), khalifah ke-25 Abbasiyah, meluncurkan program penangkalan dengan merekrut sejumlah ulama. 

Para ulama ini dipekerjakan untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang diproduksi penguasa. Pada 1011, al-Qadir mengeluarkan dekrit yang dikenal dengan “Manifesto Baghdad.” 

Isinya, memerangi kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan dengan penguasa. Target utama dekrit ini adalah kaum Syiah, Mu’tazilah dan kelompok-kelompok Khawarij.
 
Para ulama memainkan peran besar dalam melancarkan kampanye pemberangusan dan penumpasan terhadap kelompok-kelompok non-Sunni itu. 

Hanya dalam dua generasi, kampanye itu berhasil. Kerajaan-kerajaan Syiah satu-persatu tumbang dan kekuatan Sunni terkonsolidasi. 

Untuk menyemai Doktrin Al-Qadir lebih dalam, penguasa Sunni membangun lembaga pendidikan. Salah satunya adalah Sekolah Nizamiyah yang dibangun untuk menguatkan ortodoksi Sunni. 

Berbeda dari sekolah-sekolah pra-abad ke-11, kurikulum Nizamiyah tidak memasukkan mata pelajaran umum. Sains, Kedokteran, dan Matematika dikeluarkan dari daftar pengajaran. Filsafat diajarkan bukan untuk mengembangkannya, tapi sebagai alat untuk menyerang para filsuf.
 
Sejak saat itu, menurut Kuru, kaum muslim mengalami kemunduran. Yang paling parah adalah kemunduran intelektual. 

Terbukti, setelah kerajaan-kerajaan Islam meraih kejayaan militernya kembali (di bawah Ottoman, Safawiyah, dan Mughal), produksi pengetahuan mengalami kemunduran serius. 

Dunia Islam tak lagi memproduksi sarjana-sarjana besar sekaliber al-Khawarizmi, Ibn Haytham, Abu Bakar Al-Razi, Al-Farabi, dan Ibn Sina. 

Memasuki abad ke-15 Eropa menjalani renaissance dan memulai revolusi pengetahuan dan industri. Sementara, dunia Islam memasuki masa stagnasinya. 

Masa kemandekan intelektual ini berujung pada kolonialisme. Pada abad ke-19 dan ke-20, hampir seluruh negara muslim berada di bawah kekuasaan penjajah Eropa.
 
Singkatnya, aliansi ulama-negara adalah penyebab dan biang keladi dari kemunduran kaum muslim. Meski saya memiliki sejumlah kritik terhadap Kuru (saya pernah menulis hal ini di Jalankaji.com), masuknya agama ke dalam negara (lewat ulama) adalah penyebab kemunduran kaum muslim. 

Di mana-mana, agama adalah penyebab kemunduran. Selama masa kegelapan, kehidupan bangsa Eropa didikte oleh agama. Dan mereka bisa keluar dari kegelapan, salah satunya, adalah dengan melawan agama. 

Selama ulama terus mendikte negara, tak mungkin suatu negara bisa maju. Karakter ulama adalah konservatif. Inti ajaran konservatisme adalah menghalangi perubahan.
 
 Masa Depan Agama
 
Isu kedua, tentang relevansi agama. Apakah agama masih relevan buat manusia modern? Bagaimana masa depan agama? 

Satu hal yang banyak orang tidak sadari adalah bahwa agama merupakan ciptaan manusia. 

Agama diciptakan sebagai bagian dari proses evolusi manusia yang panjang. Agama baru hadir di dunia ini sekitar 70 ribu tahun silam. Manusia modern (homo sapiens) sudah ada lebih dari 200 ribu tahun lalu. 

Agama-agama utama yang kita kenal sekarang (Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan agama-agama China) lebih baru lagi. 

Semuanya baru muncul di era kultivasi setelah revolusi pertanian (agriculture revolution). Yahudi baru muncul pada abad ke-15 SM, Hindu abad ke-8 SM, Budha abad ke-5 SM, Kristen abad pertama, dan Islam abad ke-6. 

Agama-agama Mesir Kuno dan Babilonia sudah muncul bahkan jauh lebih awal dari agama-agama “samawi” ini.
 
Mengapa agama muncul? Sebagai fenomena spiritual, agama muncul sebagai akibat dari revolusi kognisi pada manusia. 

Para ilmuwan sepakat, revolusi kognisi ini terjadi antara 70 ribu hingga 75 ribu tahun silam. Yuval Noah Harari menyebut mutasi gen sebagai salah satu sebabnya (Sapiens, 2011). 

Dengan struktur otak yang baru, manusia memiliki kemampuan melebihi rata-rata hewan lainnya. Salah satu kemampuan yang tak dimiliki hewan-hewan lain adalah imaginasi. 

Manusia bisa mengimaginasikan apa saja, merangkai gambar dan bentuk dari pengalaman-pengalaman personalnya. 

Mereka bisa membayangkan makhluk yang secara real tidak ada wujudnya: kuda terbang, gajah bertangan delapan, setan, iblis, memedi, genderuwo, kuntilanak, malaikat, peri, tuhan, dan lain-lain. 

Revolusi kognisi mendorong manusia menjadi makhluk yang kreatif. Mereka tak hanya mampu menaklukkan api dan membuat jarum, tapi juga pandai mereka makhluk-makhluk jejadian.
 
Agama sebagai fenomena spiritual mendapatkan peran fungsionalnya saat revolusi pertanian, ketika manusia memutuskan hidup menetap, setelah lebih dari 200 ribu tahun mengembara sebagai makhluk nomaden. 

Dengan menetap, manusia memiliki waktu luang berlebih. Mereka tak perlu lagi berburu, karena makanan telah tersedia di lumbung-lumbung gandum dan ternak-ternak yang mereka domestikasi. 

Yang perlu mereka pikirkan adalah bagaimana mengatur tetangga dan orang lain agar tidak saling mencuri. Dari sinilah muncul gagasan pemerintahan dan agama. 

Pemerintah sebagai pengatur dan agama sebagai aturannya. Agama-agama yang kita kenal sekarang adalah produk revolusi pertanian. 

Fungsinya sama seperti negara: mengatur manusia agar tidak saling menyerobot, mencuri, atau membunuh.
 
Pertanyaan apakah agama masih relavan sangat terkait dengan dua fungsi agama di atas. 

Sebagai fenomena spiritual, agama terus tumbuh. Kemampuan imajinasi manusia tak terbatas. Mereka menciptakan dunia khayali yang sangat beragam. 

Setiap agama memiliki anak kandung hasil dari imaginasi-imaginasi liar pendirinya. Yahudi melahirkan Kristen. Keduanya melahirkan Islam. 

Hindu melahirkan Budha. Islam melahirkan Sunni dan Syiah. Sunni melahirkan Ahmadiyah. Syiah melahirkan Druz. 

Di dunia Kristen, jumlah anak-anaknya (berupa sekte dan denominasi) tak terhitung jumlahnya. 

Setiap ada penyendiri mengaku mendapatkan wahyu, sebuah agama baru bakal muncul. Hampir semua pendiri agama pada mulanya dianggap gila. 

Nasib mereka ditentukan oleh seberapa banyak mereka mampu merekrut pengikut. Jika gagal, mereka akan dianggap pendusta. Jika sukses, mereka akan dianggap nabi.
 
Sebagai institusi, agama lambat-laun kehilangan relevansinya. 

Hanya sedikit negara di dunia ini yang mengadopsi agama sebagai “panduan” bagi kehidupan mereka, seperti terjadi pada zaman axial dan abad pertengahan. 

Sebagian besar negara sekarang ini membuat sendiri aturan pemerintahan yang umumnya bersifat sekuler. 

Semakin sekuler sebuah pemerintahan, semakin besar potensinya untuk berkembang. Semakin religius sebuah pemerintahan, semakin besar peluangnya untuk terbelakang. 

Demokrasi dan kebebasan akan berkembang dengan baik pada pemerintahan yang sekuler, yang jauh dari intervensi agama. Dengan kata lain, sebagai institusi, agama semakin tidak relevan buat kehidupan manusia modern.
 
Lalu, bagaimana masa depan agama? Denny JA menulis bahwa agama memiliki seribu nyawa. Artinya, agama tak akan pernah mati. 

Dalam jangka pendek, tentu agama tak bakal mati. Dalam jangka panjang, agama dalam pengertian seperti yang kita pahami hari ini, pasti akan punah. 

Daniel Dennet, seorang filsuf dan aktivis gerakan Ateisme Baru, meramalkan bahwa agama akan bertahan 500 tahun lagi. 

Setelah itu, seiring dengan berubahnya peradaban manusia, berubah pula cara manusia memaknai kehidupan mereka. 

Saya sepakat dengan Dennet. Tapi, tidak sepakat soal angka. 500 tahun terlalu lama. Jika kecerdasan umum buatan (artificial general intelligent - AGI) terealisasi sebelum 2050 dan manusia bisa berintegrasi dengan mesin-mesin cerdas itu, lambat-laun agama akan mati. 

Ketika semua hal bisa diatasi manusia, termasuk mengunggah nyawa (mind uploading), ketika itulah kebutuhan terhadap agama sirna. 

Pada momen itu, kata Harari, manusia tak lagi memerlukan tuhan, karena mereka telah menjadi tuhan (homo deus). 

Dengan mempertimbangkan Hukum Moore dan melihat perkembangan teknologi dalam dua dasawarsa terakhir, saya meyakini, agama akan mati dalam 100--atau paling lambat 150--tahun lagi.**
 
Luthfi Assyaukanie. Menyelesaikan PhD-nya dalam bidang sejarah politik di Universitas Melbourne, Australia. 

Selain mengajar di Universitas Paramadina, Jakarta, Luthfi melakukan riset di sejumlah lembaga penelitian. 

Pada 2020, bersama beberapa teman dekatnya, dia mendirikan ForSains, sebuah forum untuk mendiskusikan isu-isu sains dan perubahan.

-000-
Buku Denny JA yang direview dapat dibaca, diunduh, dicetak dan disebar melalui link
https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/1596857733835656/

Jumat, 12 Februari 2021

SECUPLIK SEJARAH NKRI

 

SECUPLIK SEJARAH NKRI

Sebaiknya anda tahu, agar Bangsa ini tidak terbelah

Saudaraku, para ulama besar sekaligus guru bangsa Indonesia, yang sejak lama menyapa bangsa dengan taman hati itu waliyullah. Insha Allah.
Tetapi tahukah engkau, bahwa : beliau KH Abdurrahman Wahid adalah Tionghoa pertama yang menjadi Presiden RI?

Beliau keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. 

Sementara itu , Raja Islam pertama di tanah Jawa Dwipa, Raden Patah sendiri nama aslinya adalah Tan Eng Hwa.                Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini adalah anak dari puteri Tiongkok yang menjadi selir Raden Brawijaya V.

Tan Kim Han menurut hasil penelitian ahli sejarah Perancis Louis-Charles Damais, tidak lain adalah:
Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang ditemukan makamnya di Trowulan.

Sumpah Pemuda 1928 terselenggara di rumah Sie Kok Liong, Gedung Kramat 106. 
Para anggota Jong Java,  biasa menggunakan rumah ini untuk diskusi politik dan latihan kesenian. Mereka menyebut rumah ini Langen Siswo.
Selain Liong, juga ada Kwee Thiam Hong, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok dan Tjio Djin Kwie. 

("Ali Sadikin pada 20 Mei 1973 meresmikan gedung ini sebagai Gedung Sumpah Pemuda").

Mereka dari suku Thionghoa. Bukan China.  China itu negara; seperti kita suku bangsa Batak, Papua, Sasak, Bali atau Jawa, Minang, Sunda. Tetapi Warga Negara Indonesia sebagaimana suku Thiong Hoa.

Maka,...
Pahlawan Nasional TNI AL John Lie meninggal  pada 27 Agustus 1988 dengan pangkat terakhir Laksama na Muda (Mayor Jendral) sejak 1966, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi 
~ Bintang Mahaputera Utama (oleh Presiden Soeharto , 10 Nopember 1995). 
~ Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional (oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009).

Jenderal Besar TNI A.H. Nasution pada 1988 berkata: 
"Prestasi Laksamana Muda John Lie tiada taranya di Angkatan Laut karena dia adalah panglima armada (TNI AL) pada puncak krisis eksistensi Republik dalam berbagai operasi menumpas kelompok separatis: Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta."

John Lie dengan keberaniannya menembus blokade laut tentara Belanda pada masa revolusi era 1945, Mayor John Lie sukses lima belas kali melaksanakan tugas menyelundupkan berbagai komoditas ekspor ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan perjuangan Republik. 

Uang yang didapat dibelikan senjata, tapi lebih sering secara barter. Persenjataan tersebut kemudian diselundupkan kembali masuk ke wilayah RI melalui Riau, diserahkan kepada bupati Usman Effendi untuk diedarkan lebih lanjut kpd para pejuang. 

Pada awal 1950, ketika di Bangkok, beliau dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang RI Rajawali, kemudian aktif menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku dan PRRI/Permesta. 

Ada lagi tokoh :
Djiaw Kie Siong yang adalah pemilik rumah yang dihuni Soekarno - Hatta dalam peristiwa Rengasdengklok. 
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, yaitu di rumah Djiaw Kie Siong. 

Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. 

Ketika naskah proklamasi akan di bacakan, tiba-tiba pada Kamis sore datanglah Ahmad Subardjo yang kemudian membawa Bung Karno dan Bung Hatta cs berangkat ke Jakarta untuk membacakan Proklamasi di jalan Pegangsaan Timur 56.

Liem Koen Hi, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe dan Oey Tjong Hauw adalah anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ketika merumuskan UUD 1945. 

Drs Yap Tjwan Bing,... apakah anda tahu ?.... dia adalah seorang sarjana Farmasi dan apoteker yang juga dosen dan anggota Dewan Kurator ITB Bandung. 
Tahun 1945 beliau terpilih menjadi salah satu anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 
Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan PNI. 
Namanya kemudian diabadikan,  menjadi salah satu ruas jalan di kota Surakarta . Menggantikan Jalan "Jagalan", yang diresmikan oleh Walikota Surakarta H. Ir Joko Widodo pada tanggal 22 Februari 2008.

Salah satu orang yang terlibat secara langsung dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya adalah :
Tony Wen alias Boen Kin To.
Beliau sebelum Perang Dunia II adalah pemain sepak bola terkenal di kesebelasan UMS (Union Makes Strength). 
Pada masa pendudukan Jepang, dia bekerja sebagai juru bahasa , di kantor urusan Hoa Kiao (Kakyo Hanbu),.salah satu bagian pusat intelijen Jepang (Sambu Beppan). Setelah Jepang takluk beliau menghilang dari Jakarta dan menetap di Solo memimpin Barisan Pemberontak Tionghoa. 

Ketika Presiden Soekarno dan para pemimpin lain dibuang ke Pulau Bangka, beliaulah yang menyediakan seluruh keperluan para pemimpin tersebut. 
Pada era 1950an beliau diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI. 

Pada 1952 masuk menjadi anggota PNI dan sejak Agustus 1954 sampai Maret 1956 diangkat menjadi anggota DPR mewakili PNI lalu duduk di Kabinet Interim Demokrasi, dan pada tahun 1955 berada dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, (WR Supratman) untuk pertama kali dipublikasikan oleh Koran Tionghoa Sin Po. 

Lie Eng Hok adalah seorang Perintis Kemerdekaan Indonesia. 
Beliau salah satu tokoh penting di balik pemberontakan 1926 Banten. Dalam peristiwa itu, masa bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah, dan kantor milik Pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Semasa muda, Lie  aktif sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po dan berkawan akrab dengan Wage Rudolf Supratman, dari persahabatan-nya inilah beliau belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan. 

Lie Eng Hok berperan sebagai kurir kaum pergerakan, lantas beliau ditahan Pemerintah Kolonial Belanda dan dibuang ke Boven Digoel (Tanah Merah), Papua, selama lima tahun (1927-1932). Selama di Boven Digoel Lie menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan lebih memilih membuka kios tambal sepatu untuk memenuhi biaya hidupnya. 

Atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Indonesia, Lie Eng Hok diangkat sebagai Perintis Kemerdekaan R.I. berdasarkan : SK Menteri Sosial RI No. Pol. 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. 

Lie meninggal pada 27 Desember 1961 dan dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. 
Dua puluh lima tahun kemudian, kerangka Lie Eng Hok baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, melalui Surat Pangdam IV Diponegoro No.B/678/X/1986.

Satu lagi, Siouw Giok Tjhan adalah Menteri Negara Urusan Minoritas dalam Kabinet Amir Syarifudin. 
Pada 1958 beliau mendirikan Universitas Trisakti 
Awalnya bernama Universitas Res Publika, oleh Orde Baru diganti menjadi Tri Sakti. 

Menurut Siauw Giok Tjhan, kecintaaan seseorang terhadap Indonesia, tidak bisa diukur dari nama, bahasa dan kebudayaan yang dipertahankannya, melainkan dari perilaku dan kesungguhannya dalam berbakti untuk Indonesia. 

Bung Karno pada tahun 1963,  secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa adalah suku Tionghoa. 

Siauw tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka-rela dan wajar, yang ditentangnya adalah proses asimilasi paksa untuk menghilangkan identitas sebuah golongan.

Salam Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa, Indonesia. 

*) Rangkuman dari berbagai sumber, semoga berguna bagi generasi penerus Kaum Pejuang.
JASMERAH

Gong Xi Fat Cai 2572
.

Apakah Imlek hari Buddhist?

Apakah Imlek hari Buddhist?
Banyak orang keturunan Tionghoa Buddhist setelah beralih memeluk agama lain seperti Kristen, Katolik, Islam, Hindu ataupun tidak beragama, tidak lagi mau merayakan Imlek dengan mengatakan kalo mereka bukan lagi Buddhist. 

Statement ini seolah olah mengimplikasikan bahwa Imlek adalah hari Buddhist.

Imlek sesungguhnya bukan hari Buddhist jadi setiap orang keturunan Tionghoa apapun agamanya boleh merayakannya.

Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok pada thn 65 M dibawa oleh dua org Bhiksu dari Asia Tengah yang bernama Bhiksu Kasyapa Matangga dan Bhiksu Gobarana. 

Pada saat Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok 1955 thn yang lalu, di daratan Tiongkok 
sudah ada dua ajaran yang dianut oleh warga setempat yaitu Taoisme dan Konfusianisme.

Tapi Buddhisme tidak saling bersinggungan dengan dua ajaran setempat malah diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat di sana.

Sehingga terjadilah sinkretisme  (percampuran tiga ajaran). Yang kita kenal sekarang sebagai Sam Kaw (tiga ajaran). 

Pada saat itu awal Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok, 1955 tahun  yang lalu, masyarakat Tiongkok sudah merayakan Imlek selama 2766 thn.

Jadi tahun ini adalah Imlek yang  ke 4718
Dari sejarah ini kita bisa menyimpulkan bahwa Imlek bukan hari Buddhist. 

Imlek dirayakan pertama kali pada:  4718 tahun yang lalu sejak dinasti awal di daratan Tiongkok yaitu dinasti Sia.

Imlek dirayakan untuk menyambut datangnya musim semi, saat itu masyarakat Tiongkok hidup dari bercocok tanam dan selama datangnya musim dingin.

Mereka tidak bisa beraktifitas di ladang mereka selama beberapa bulan.

Dan ketika musim semi tiba mereka menyambutnya dgn suka cita krn bisa kembali beraktifitas di ladang mereka. 

Datangnya musim semi ini mereka rayakan sbg Tahun Baru Imlek dan mrk mengucapkan:
"Sin Chun Kiong Hi" (Selamat dtg musim semi).

Banyak org keturunan Tionghoa di Indonesia mengatakan Imlek thn ini adalah Imlek yg ke 2571.

Imlek 2571 bukan lah Imlek yang dihitung sejak jaman dinasti Sia.

Imlek 2571 adalah Imlek versi kaum Konfusianisme.

Yang dihitung sejak tahun kelahiran Confusius/ Nabi Kong Hu Cu.
 
Confusius lahir pd thn 551 SM.
 
Kaum Konfusianisme begitu berterima kasih kpd Confusius, yang telah mengajarkan mereka etika dan moralitas

Sehingga tahun lahir beliau dianggap sebagai Imlek pertama.

Walau sesungguhnya masyarakat Tiongkok saat itu sudah merayakan Imlek selama 2147 thn.

Semoga menambah pengetahuan.🙏

Rabu, 10 Februari 2021

PANCASILA YANG DITENTANG KAUM EKSTRIMISME AGAMA.

 

*PANCASILA YANG DITENTANG*
*KAUM EKSTRIMISME AGAMA.*

*Dalam buku "Book Art Of Humanism Religius Iran",* tokoh negara Iran -Ali Khamenei (Ali Hossaini Khamenei)- yang pernah menjabat presiden iran dua periode 1981-1989 dan menjabat sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menggantikan Ayatullah Khomeini sejak tahun 1989, bercerita tentang sebuah pengalaman beliau ketika berada dalam tahanan rezim Syah Pahlevi ketika masa perjuangan revolusi iran.

Ali Khamenei dipenjarakan dalam satu sel bersama seorang komunis dari partai Ba'ats (atau sekarang disebut sosialis loyalis). Ali Khamenei datang mendekati tahanan tersebut lalu mengucapkan salam, tapi tahanan tersebut enggan berbicara pada Ali Khamenei dan tidak membalas salamnya.

Tanpa menghiraukan sikap acuh tak acuh dari lawan bicaranya, Ali Khamenei bertanya : "Apa anda seorang komunis dari partai revolusi Ba'ats ??". Orang tersebut tetap diam. Mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah seorang anggota partai Ba'ats yang berhaluan sosialis-komunis, Ali Khamenei mengungkapkan sebuah pertanyaan lagi : "Apakah anda mengenal Soekarno -bapak revolusi kemerdekaan Indonesia-, yang memiliki falsafah Pancasila ??". Mendengar nama Soekarno yang disebut, orang tersebut akhirnya menjawab : "Ya, saya kenal dengan beliau. Ada beberapa buku beliau yang saya miliki ketika saya di Rusia, dan saya pernah bertemu beliau di Rusia".

*"Siapa Soekarno itu di mata anda ??".*
Orang tersebut pun menjawab bahwa Soekarno adalah bapak pertama yang menciptakan negara humanis sosialis, tanpa dasar agama sebagai pilar, tanpa liberalis sebagai acuan kata.
"Anda salah", ujar Ali Khamenei.

"Soekarno memang betul bapak humanis sosialis, tapi Soekarno bukanlah seorang komunis, dan negara beliau tidak berdasarkan agama, tapi berdasarkan Ketuhanan dimana semua manusia wajib bertuhan sebagai dasar kebangsaan. Tanpa dasar ketuhanan itu manusia bagaikan robot yang tidak bisa hidup dengan merdeka", lanjut Ali Khamenei.

Ali Khamenei pun meneruskan : "Saya memiliki buku Pancasila dari seorang Indonesia yang berziarah ke Iran dan belajar serta berdagang disana. Walau kami bertahun-tahun menerjemahkannya, tapi kami tetap semangat untuk menjadikan iran sebagai negara humanisme agama, dimana semua agama saling membangun negara iran tanpa ada perseteruan".

Orang tersebut diam sejenak, tanpa ia sadari ia mengeluarkan airmatanya dan berkata kepada Ali Khamenei : "Kelak kalau saya keluar dari penjara, saya akan datang kerumah anda dan meminjam buku-buku Soekarno itu, karena sangat penting jika iran dijadikan negara yang berdasarkan humanisme agama dimana semua manusia dari berbagai golongan saling membangun negara iran".

Siapakah ia yang diajak bicara oleh Ali Khamanei itu ??
Beliau adalah Abul Hasan Bani Shadr presiden pertama di iran pasca revolusi, dan beliau adalah salah seorang inisiator yang membentuk negara iran sebagai negara humanisme agama, dimana iran pasca revolusi semua agama dan tradisi menjadi satu saling bahu-membahu membangun negaranya dibawah naungan sistem politik wilayatul faqih.

Iran setelah 34 tahun pasca revolusi, belum pernah terjadi gesekan antar agama, baik agama Zoroaster, Yahudi, Nasrani, Baha'i maupun Sunni dan Syi'ah. Bahkan dalam konstitusi iran, agama-agama minoritas tersebut mendapatkan jatah gratis perwakilan di parlemen iran. Semua agama, semua golongan diberikan kesempatan dan ruang untuk sama-sama membangun negara iran yang berbasis humanisme agama.

Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki Soekarno sebagai founding father Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan falsafah Pancasila sebagai dasar negara, kita harus berbangga. Ternyata nan jauh disana, di belahan dunia barat asia, di tanah persia (iran), ternyata tokoh-tokoh yang berperan penting dalam revolusi islam iran menjadikan Soekarno dan Pancasila sebagai salah satu inspirasi perjuangan dan konsep negara yang akan mereka bangun nantinya.

Ini fakta saktinya *Pancasila dan Indonesia yang humanis.* Namun sayangnya, di NKRI sendiri, kaum komunis-ekstrimis-agamis selalu berusaha mengganti dasar negara (Pancasila) dengan embel-embel "Syariah", atau dengan dalih "Thoghut", demokrasi ciptaan orang kafir, bla bla bla. Padahal tanpa demokrasi pancasila, boleh jadi mereka dan keluarga mereka sudah jadi mangsa ISIS.

Tags

Abdurrahman Wahid (1) Agama (3) Ahok (1) Aneh Nyata (9) Arabisasi (1) Arti Politik (1) Bahaya Game (1) Bahaya Gula (1) Bahaya Nasi (1) Bali (1) Batik (1) Batu Giok (1) Belas Kasihan (1) Berita Hoax (1) Biji Bijian (1) Biografy (2) Birgaldo Sinaga (1) Bisnis Wisata (1) Bom Nuklir (1) Bom Nunklir (1) Buddhist (1) Buku (1) Cerdas Kreatif (1) Croc Brain (1) Dana Trading (1) Definisi Politik (2) Demokrasi (1) Demokrasi Pancasila (2) Denny JA (2) Desain Logo (1) Disney Land (1) Dokumen Rahasia (1) Ego Pengertian (1) Egoisme (1) Egoistis (1) Egosentris (1) Ekonomi (1) Filsafat Politik (2) Foto Grafer (1) Fungsi Air Putih (1) Fungsi Lada Hitam (1) Fungsi Makanan (1) Fungsi Smartphone (1) Gaptek (1) Ginjal (1) Harta Karun (1) Hypnowriting Teknik (1) Identias (1) Imlek (1) Inspirasi (74) Islam Nusantara (1) Jembatan (1) Kaki Diatas (1) Kasih Sayang (1) Kebaikan (1) Kebebasan (1) Kebiasaan Buruk (1) Kekuatan Super (1) Kelompok Radikal (1) Kenali Berita (1) Kesehatan (3) Kesejahteraan Rakyat (1) King Kobra (1) Kisah Nyata (2) Konsumsi Berlebihan (1) Kota Hindu (1) Kritik Bill Gates (1) Kuliner (14) Liberalisme (1) Lifestyle (23) Lintas Agama (2) Lukisan (1) Lukisan Istana (1) Manfaat Trading (1) Manusia Modern (1) Melawan Kanker (1) Memilih Profesi (2) Memutihkan Baju (1) Menghindari Semut (1) Mengkilapkan Kaca (1) Meritokrasi (1) Merusak Mobil (1) Michelle Obama (1) Miras (1) Mobil Listrik (1) Momen Wisuda (1) Motivasi (1) Nasib Manusia (1) Nasihat Bijak (3) Negara Meritokrasi (1) NKRI (1) Obat Kanker (1) Oligarchy (1) Pahlawan (1) Pancasila (1) Para Jomblo (1) Pembasmi Kanker (1) Pembunuhan (1) Pengemis Gombal (1) Pengetahuan Praktis (1) Penuan Kulit (1) Penyeberangan (1) Penyerap Racun (1) Pertarungan BruceLee (1) PKI (1) Politik (1) Politik LN (2) Politik Praktis (1) Prajurit Kostrad (1) Pribumi (1) Produk Kecantikan (1) Pulau Terindah (1) Radikalisme (2) Ragam (122) Renunang (1) Renungan Cerdas (4) Resensi Buku (1) Sejarah (2) Sejarah Presiden RI (1) Seni Hias Kue (1) Situasi Darurat (1) Soekarno (1) Sukses Hidup (1) Suku Tionghoa (1) Taman Hias (1) Tank Tentara (1) Tekno (44) Telinga (1) Tingkah Laku (1) Tionghoa (1) Tips (104) Tokoh Dunia (2) Toleransi (1) Trik Belajar (1) Turunkan Berat (1) Uang Kotor (1) Waw (1) Wisata (1) Wow (171)