Latest News

Senin, 08 Maret 2021

Mari Kita Berjuang Demi NKRI dan Anak Cucu Kita Kelak.

Mari Kita Berjuang Demi NKRI 
dan Anak Cucu Kita Kelak.
Ayo kita berjuang bersama-sama...., demi NKRI dan anak cucu kita kelak.
Ulasan yg sangat bagus / pas utk keadaan saat ini : 
Banyak orang menyangka..., saudara kita yang meributkan hal remeh temeh..., yang disangkut pautkan dengan agama itu disebabkan karena kebodohan belaka. 
Padahal bukan....

Sesuatu yang tampaknya bodoh itu...,  memang sengaja disetting..., sengaja diproduksi.
Tujuannya simpel...; untuk menciptakan kegaduhan terus menerus di masyarakat..., dan menjaring mereka lainnya lebih banyak lagi.
Mereka dijanjikan surga..., padahal yang mau diciptakan adalah neraka.
Target besarnya untuk menciptakan konflik horisontal..., sebab konflik horisontal hanya bisa dibuat jika jumlah mereka ini semakin banyak. 
Penciptaan konflik horisontal itu...., dibarengi dengan terus menerus melemahkan negara. 

Segala isu diproduksi..., untuk menciptakan ketidakpercayaan publik.
Yang paling gampang.., adalah memperhadapkan negara dengan agama. 
Kenapa perlu diciptakan konflik horisontal dan pelemahan peran negara....? 
Begini....:
Jika negara kuat dan masyarakatnya kuat..., maka akan tercipta sistem yang kokoh.
Demokrasi berjalan..., fungsi korektif menyehatkan..., dan ada keseimbangan kekuasaan.
Jika negara kuat dan masyarakatnya lemah..., yang terjadi adalah otoritarian. 
Kita pernah merasakan di jaman Orde Baru..., jaman Soeharto.
Sementara....; jika negara lemah dan masyarakatnya kuat..., yang akan terjadi adalah chaos. 

Nah....; jika negara lemah dan masyarakatnya juga lemah..., maka yang akan terjadi adalah intervensi asing. 
Kondisi seperti ini terjadi di Suriah..., Libya. , Irak..., Yaman..., dan juga berbagai negara Afrika.
Coba lihat kondisi kita sekarang....:
Kegiatan melemahkan fungsi negara...., terus menerus dilakukan.
Masyarakat diajarkan anarkis. 
Hanya karena fatwa MUI..., suatu ormas bisa melakukan sweeping ke mall atau menekan aparat. 
Desain uang..., dan banyak soal remeh temeh lainnya dipermasalahkan. 
Salah satu ciri negara yang melemah...., adalah berkuasanya gerombolan sipil bergaya militer di masyarakat.
Lihat saja..., laskar-laskar organsasi kemasyarakatan dan kelompok agama para militer saat ini. 
Pada beberapa kasus..., justru ulahnya saat itu mengalahkan polisi.
Sweeping dan pembubaran kegiatan agama. , sudah sering kita dengar. 
Juga demonstrasi untuk menekan sistem hukum.
Organisasi yang jelas-jelas tujuannya merusak NKRI..., tumbuh dan makin membesar.
Mereka bahkan bisa teriak-teriak hendak menggantikan Pancasila dengan khilafah..., di jalanan umum. 
Semua kebijakan negara..., dibenturkan dengan isu agama. 
Mirip Libya...., di awal kehancurannya. 
Bagaimana dengan usaha pelemahan masyarakat....? 
Itu dilakukan dengan mengkondisikan konflik horisontal. 
Sama juga...., modalnya adalah isu agama dan rasial.
Nah..., coba perhatikan....:
Seberapa gampang kini masyarakat menuding kafir dan sesat kepada orang lain. 

Makin enteng bukan....? 
Bukan saja kepada mereka yang berbeda agama...., tapi juga yang seagama. 
Pada siapapun yang berbeda...., maunya berantem terus.
Sedangkan konflik rasial terus dihembuskan...., dengan menciptakan permusuhan pada etnis Tionghoa. 
Yang paling bodoh...., mereka menyamakan segala hal berbau RRC dengan WNI berdarah Tionghoa. 

Padahal..., itu sama saja bilang bubur kacang ijo sama dengan sayur toge. 
RRC sebagai sebuah negara..., jelas berbeda dengan WNI etnis Tionghoa. 
Suriname yang warganya berdarah Jawa...., juga tidak ada hubungannya dengan Indonesia. 
Cuma ada hubungan sejarah...., tidak lebih.
Mengapa kebencian pada etnis Tionghoa terus dihembuskan....? 
Selain menciptakan konflik horisontal...., juga usaha melumpuhan ekonomi kita.

Harus diakui..., akibat kebijakan Orba...., saudara-saudara kita etnis Tionghoa menempati posisi ekonomi cukup baik.
Selama iini.. karena trauma dengan kerusuhan 1998..., orang-orang kaya lebih memilih menyimpan asetnya di luar negeri.
Aset-aset inilah yang ingin ditarik kembali oleh Presiden Jokowi...., dengan program tax amnestynya.

Langkah itu akan terhambat....,  jika para pemilik aset besar itu tidak merasa nyaman dengan kondisi Indonesia.
Bayangkan...., jika ketidaknyamanan ini terus terpelihara. 
Bukan hanya aset dari luar ogah masuk...., justru malah duit di dalam negeri akan kabur ke luar.

Ini berakibat akan semakin beratnya ekonomi nasional.
Rakyat susah...., lalu muncul ketidakpuasan pada pemerintah. 
Nah masalah ekonomi...., konflik agama...., dan rasial merupakan paduan yang pas untuk memporakporandakan bangsa.
Jika itu terjadi..., siapakah yang paling menderita....? 
Kita semua..., termasuk anak cucu keturunan kita.
Saudara-saidara kita itu seolah bangga...., seperti sedang memperjuangkan agamanya. 

Bergaya mau mencium bau surga...., padahal yang dilakukannya cuma merusak masa depan anak cucunya sendiri.
Cuma menghadirkan neraka...., di negerinya sendiri.
Untuk menyelamatkan masa depan anak kita..., tidak ada cara lain selain kita yang sadar mengurangi jumlah mereka..., dan menjaga jangan sampai terjadi konflik horisontal..., sambil terus memperkuat peran negara. 

Tindakan pemerintah kemarin membubarkan suatu ormas adalah sudah tepat..., harus kita dukung. 
Jangan diam...., Indonesia membutuhkan kita. 
Anak cucu kita..., berharap besar pada kita
Dulu orang mengira...., diam itu emas. 
Sekarang diam sudah gak musim...., dan itu sudah dimulai oleh pemerintah. 
Ayo kita berjuang bersama-sama...., demi NKRI dan anak cucu kita kelak. 
*Salam Rahayu* 🙏
*NKRI HARGA MATI* ✊🇮🇩

MUNCULNYA NAMA ISLAM NUSANTARA ADALAH BENTUK PENOLAKAN TERHADAP ARABISASI

 

MUNCULNYA NAMA  ISLAM NUSANTARA ADALAH BENTUK PENOLAKAN TERHADAP  ARABISASI 
Pertentangan mengenai islam oleh Umatnya sendiri mengundang banyak keprihatinan terutama di Indonesia yang Kita cintai ini apalagi dinegara yang berazaskan Pancasila , tindakan adu domba dan hasut menghasut merasa paling Islami Tak habis habisnya terdengar setiap hari dan Itu dimulai sejak 2014 awal Pilpres ketika Jokowi maju menjadi presiden. Akhirnya mulai populerlah sebutan islam Nusantara .

Padahal umat islam di Indonesia Selama ini tak pernah bermasalah dengan perbedaan bahkan dengan Agama lain , Itu karena NU dan sayap Partai pendukung NU mendukung Jokowi , seperti PKB dan PPP jika tidak mungkin situasinya Lebih Parah lagi tapi Tak bisa dipungkiri NU adalah Organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia sehingga para lawan politik Jokowi berusaha mencari celah dan memang difasilitasi oleh PKS yang kebetulan menganut faham Ikhwanul Muslimin dan Hisbuth Thahrir . Boleh dibilang PKS adalah pihak yang diuntungkan dari pertentangan islam ini terutama dalam meraup kursi di Parlemen dan diuntungkan dengan orang yang memanfaatkan islam kerena politik bahkan narasi -narasi bodohpun muncul yang Saya pikir kurang ada gunanya , seperti Musik haram hingga klepon haram. 😂😂

Wacana Islam nusantara merupakan respon dari upaya arabisasi atau percampuran antara budaya Arab dengan ajaran Islam. Islam diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad tidak hanya untuk satu bangsa Arab saja, melainkan bersifat universal ditujukan kepada seluruh umat manusia apapun suku dan bangsa berasa.

Selama ini—diakui atau tidak—secara simbolis umat islam seringkali terjebak pada Islam yang ada di Arab, Islam yang dibentuk dengan pakaian-pakaian ala orang Arab, seperti menggunakan Sorban, Jubah, kerudung cadar, dan lain-lain. Namun secara teologis, Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam dan Islam nusantara sangat tidak bertentangan dengan esensi Islam karena tetap menggunakan “Tauhid” sebagaiman esensi yang ajaran Islam disampaikan Nabi Muhammad.

Sektarian di Indonesia jauh lebih kurang dibandingkan dengan sektarianisme yang mengakibatkan kekerasan terus-menerus di negara-negara Arab. Pemahaman salah dalam dalam agama bermazhab simbolis bisa mengarahkan penganutnya kepada jebakan fundamentalisme dan radikalisme. Logikanya, ketika agama dibajak untuk melegalkan radikalisme atas nama agama, maka agama menjadi instrumen pembenaran (Ali Masykur Musa, 2015). 

Islam masuk ke nusantara melalui proses akulturasi budaya (perkawinan Islam dan budaya Nusantara) lapisan bawah, yakni masyarakat sepanjang pesisir utara. Kedatangan islam dan penyebaran kepada golongan bangsawan dan kerajaan umum, dilakukan secara damai. Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran–saluran islami yang berkembang ada enam, yaitu: perdagangan, perkawinan,   tasawuf, pendidikan,  kesenian dan   politik.

Islam berkembang pesat di bumi Nusantra karena pengaruh para sufi yang menyebarkan ajaran Islam yang inklusif dan akomodatif terhadap kehidupan sosial budaya setempat. Dakwah damai ini dilanjutkan para kiai atau syekh yang tidak punya kepentingan politik dengan mendirikan pesantren yang mengutamakan akhlak dan kearifan lokal. Pola pembumian Islam secara damai ini menjadi ikon penting Islam di bumi Nusantara hingga kini.

Oleh karena itu, Islam Nusantara paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. Oleh karena itu, Islam Nusantara itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan: selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu sangat tepat (Mostofa Ya’kub, 2015). 

Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia. Islam Nusantara dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini, karena ciri khasnya mengedepankan sikap tawasut (moderat), jalan tengah, tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik (Azzumardi Azra, 2015).

Menurut almarhum Abdurrahman Wahid, ribuan sumber tertulis (dalil naqli), baik berupa ayat Alquran maupun hadis akan memiliki peluang yang sama bagi pendapat yang berbeda. Islam sangat menghargai perbedaan pendapat. Islam sangat membeni prilaku saling bertentangan (selisih faham) yang mengakibatkan perpecahan. 

Ahmad Baso (2015) menegaskan Islam Nusantara sebagai cara bermazha secara qauli dan manhaji dalam ber-istimbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritorial, kondisi alam, dan cara pengamalan penduduk Nusantara. Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, dan inklusif. Islam Nusantara disebut pula sebagai mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara.

Bagi NU, wacana Islam Nusantara merupakan pembaharuan atas kemapanan aliran tradisionalisme Islam yang telah terlebih dahulu mengakar dalam masyarakat, meskipun secara institusional (kaum tradisional) lebih belakang, NU didominasi orang-orang pesantren. Bidang garapan pembaharuan dari pemikiran ini, lebih terfokus pada segi kelembagaan, baik bidang organisasi maupun pendidikan yang dikelola secara modern sehingga dapat memenuhi kebutuhan umat secara kongkrit.

Secara khusus, NU adalah satu organisasi yang memiliki ciri teologis politis (organisasi keagamaan) yang kemudian mempengaruhi seluruh tingkah laku keagamaan, politik dan kemasyarakatan seperti ketika memahami konsep Islam rahmatan lil alamin secara ketat. Maka, wacana Islam Nusantara dipandang sebagai alternatif guna mengentaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan benturan agama formalitas akibat arabisasi.
Salam kedaulatan rakyat! 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

=====================

 Iran Nyatakan Paus Fransiskus Dapat Berkunjung ke Irak Berkat Pengorbanan Jenderal Qossem Sulaimani 

Menanggapi kunjungan Pemimpin agung Katolik sedunia Sri Paus Fransiskus untuk pertama kalinya ke Irak, seorang pejabat parlemen, Majelis Syura Islam, menyatakan bahwa kunjungan itu adalah berkat perjuangan dan pengorbanan jenderal tersohor dan legendaris Iran Qasem Soleimani serta rekan seperjungannya dari Irak, Abu Mahdi Al-Muhandis.
Asisten Khusus Ketua Majelis Syura Islam untuk Urusan Internasional, Hossein Amir-Abdollahian, menyebutkan bahwa seandainya bukan karena pengorbanan yang dilakukan oleh Jenderal Soleimani dan Al-Muhandis, Paus Fransiskus sekarang tidak dapat menjejakkan kakinya di Irak.

Selain merupakan kunjungan pertama Paus Fransiskus ke Irak,  kedatangannya ke Negeri 1001 Malam itu juga tercatat sebagai kunjungan luar negeri pertamanya dalam 15 bulan terakhir. Pria berusia 84 tahun itu datang ke Irak Dalam rangka melestarikan komunitas Kristen kuno Irak dan mendukung kepulangan para pengungsi Kristen yang TERUSIR oleh Teroris ISIS ketika kawanan kejam dan brutal ini sempat menguasai banyak wilayah di Irak.
https://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/iran-nyatakan-paus-fransiskus-dapat-berkunjung-ke-irak-berkat-pengorbanan-jenderal-soleimani/

t.me/GrupSuaraAnakBangsa

==========================


Peran yang harus di emban oleh para pemimpin Agama dan Spiritual dalam mencegah bencana bencana

 
Peran yang harus di emban oleh para pemimpin Agama dan Spiritual dalam mencegah bencana bencana
🔴 Pernyataan yang di keluarkan dari kantor Ayatollah Sayyid Ali Al- Sistani berkenaan pertemuannya dengan Uskup Agung, Paus Vatikan

Di pagi hari ini, Ayatollah Al Uzma Sayyid Ali Sistani bertemu dengan Uskup Agung (Paus Fransiskus) Uskup Gereja Katolik dan pemimpin Negara Vatikan.
Selama pertemuan, perbincangan keduanya seputar tantangan-tantangan besar yang di hadapi oleh kemanusiaan di zaman ini dan peran Iman kepada Allah Swt dan Risalah-RisalahNya serta konsisten dengan nilai-nilai budi pekerti yang luhur untuk mengalahkan tantangan tersebut.

Ayatollah Sayyid Ali Sistani juga berbicara tentang apa yang di derita oleh banyak orang di berbagai penjuru dunia dari kedzaliman, ketertindasan, kemiskinan serta penindasan dalam sektor Agama, pemikiran, pengekangan, kebebasan inti, tidak hadirnya keadilan komunitas, serta khususnya apa yang di derita oleh sebagian besar bangsa-bangsa kawasan kami (Timur Tengah) dari peperangan, kekerasan, embargo ekonomi serta tindakan-tindakan yang menyebabkan imigrasi dan pengungsian dan lain sebagainya, terlebih lagi (apa yang di derita) Bangsa Palestina di atas tanah yang terjajah.

Ayatollah Sayyid Ali Sistani mengindikasikan pada peran yang harus di emban oleh para pemimpin Agama dan Spiritual dalam mencegah bencana bencana tersebut, dan apa yang di harapan dari para pemimpin tersebut untuk mendorong pihak-pihak yang bersangkutan -terlebih pada poros kekuatan-kekuatan besar untuk lebih menggunakan akal sehat dan kebijaksanaan serta membuang jauh-jauh 'bahasa perang', serta untuk tidak memperluas dalam kepedulian akan kepentingan-kepentingan pribadi mereka di atas hak hak bangsa bangsa untuk hidup dalam kebebasan dan kemuliaan, sebagaimana beliau juga menekankan pentingnya mengerahkan segala daya dan upaya untuk memperkokoh dan menancapkan nilai-nilai kelemah lembutan, interaksi damai dan saling peduli antar sesama dalam semua elemen masyarakat, berdasarkan pada kepedulian akan hak hak dan saling menghormati antara para pengikut Agama-Agama serta pemikiran-pemikiran yang berbeda.

Beliau juga mengingatkan akan kedudukan Irak dan sejarahnya yang mulia serta kemuliaan rakyatnya dengan berbagai perbedaan afiliasi Mereka, dan Beliau juga menampakkan harapannya agar Bangsa ini segera melewati dan menyelesaikan ujiannya dalam waktu dekat. 

Beliau juga menekankan perhatiannya agar para penduduk Kristen hidup sebagaimana penduduk Irak lainnya hidup dalam keamanan dan kedamaian serta memiliki seluruh hak mereka berdasarkan hukum, dan beliau juga mengindikasikan pada salah satu sisi dari peran yang di lakukan oleh kepemimpinan spiritual (Marjaiyah) dalam menjaga mereka yang terdzalimi dalam tragedi-tragedi dalam beberapa tahun yang telah berlalu, khususnya pada waktu dimana para teroris (isis/daesh) menguasai wilayah yang luas di beberapa Provinsi di Irak, dan mereka melakukan aktifitas kriminal yang membuat pelipis berkeringat
dan Ayatollah sayyid Sistani berharap kebaikan dan kebahagiaan untuk Uskup Agung serta para pengikut Gereja Katolik dan bagi seluruh Umat Manusia,
Beliau juga bersyukur atas Paus Vatikan yang menanggung beban perjalanan menuju kota Najaf untuk melakukan kunjungan ini

21 Rajab 1442 H
kantor Ayatollah Sayyid Sistani 
Najaf al Ashraf.
https://t.me/IsNews2

Mengapa Populisme Islam Dan Politik Identitas Menjalar Dikelas Menengah Perkotaan?

*Mengapa Populisme Islam dan Politik Identitas* 
*Menjalar di Kelas Menengah Perkotaan?*
*Mengapa ada begitu banyak masyarakat Muslim yang cenderung delusional dalam menyikapi pemilihan umum, terutama sejak pemilihan presiden tahun 2014? (Atau jika ingin ditelusuri lebih jauh, sebenarnya ini sudah terjadi cukup lama, yaitu ketika masa-masa ICMI mulai terbentuk pada tahun 1990, yang seolah-olah menandakan bahwa ada hubungan yang mesra antara Suharto dan masyarakat Muslim)? Pertanyaan ini mungkin ada di sebagian orang yang merasa gelisah dengan dinamika keislaman masyarakat Indonesia saat ini.*

Delusi di sini diartikan sebagai keyakinan yang teguh dan tetap berdasarkan pada alasan yang tidak memadai yang tidak dapat diterima dengan argumen rasional atau bukti yang bertentangan, tidak selaras dengan latar belakang budaya dan pendidikan. Salah satu alasannya mungkin adalah karena populisme Islam di Indonesia semakin menguat belakangan ini.

Apa itu populisme Islam? Populisme adalah konsep yang elusif, tidak mudah untuk dijelaskan, yang sering kali dimaknai berbeda oleh ilmuwan-ilmuwan sosial, terutama ketika membandingkan konsep populisme pada abad ke-19 dan abad ke-21 sekarang ini. Di sini, populisme diartikan sebagai serangkaian wacana politik dan strategi yang bertujuan untuk memecah sistem kelembagaan dengan mempolarisasi masyarakat menjadi dua kubu yang bermusuhan (De la Torre 2018: 11); dalam konteks Islam di Indonesia, kedua kubu tersebut dapat direpresentasikan sebagai kelompok tradisionalis-moderat dan modernis-konservatif.

Pembagian kedua kelompok ini tidak secara otomatis mengabaikan keberadaan beragam kelompok-kelompok Islam lainnya, seperti kelompok tradisionalis-konservatif atau modernis-moderat dan lain-lain yang semakin lama semakin mempertegas polarisasi politik populer dalam konteks Islam di Indonesia.

Konsep klasik populisme di negara berkembang fokus pada pengucilan musuh-musuh yang sudah diidentifikasi, retorika anti-asing, dan menyerukan penggantian pemerintahan yang sedang berkuasa (Mietzner 2015: 3). Steven Levitsky dan James Loxton mengembangkan tiga karakteristik untuk populis: Pertama, populis memobilisasi dukungan massa melalui seruan anti-kemapanan, memposisikan diri mereka dalam oposisi terhadap seluruh elit. Kedua, populis adalah orang luar, atau individu yang naik ke posisi politik di luar sistem partai nasional. Ketiga, populis membangun hubungan personalistik dengan pemilih (Levitsky dan Loxton 2013: 110).

Seperti semua varian populisme, populisme Islam melibatkan mobilisasi dan homogenisasi sejumlah keluhan yang berbeda dari ‘massa’ terhadap ‘elit’ yang teridentifikasi. Konsepsi sentral dari populisme Islam adalah umat sebagai proksi untuk ‘rakyat’, yaitu ‘massa yang maha benar’, yang terdiri dari kepentingan sosial yang beragam secara internal, yang dihomogenisasi sebagai anggota masyarakat yang saleh yang memiliki kebajikan melalui pembandingan terhadap elit-elit yang tidak bermoral dan sekutu-sekutu asing mereka yang non-Muslim (Hadiz 2016: 3-4 & Hadiz 2018).
 
Di Indonesia, populisme Islam adalah fenomena perkotaan. Bangkitnya kelas menengah Muslim perkotaan yang vokal di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari posisi Muslim urban-modernis yang sebelumnya terpinggirkan di negara ini pada masa Orde Baru, yang mendorong kelompok-kelompok ini untuk membangun dan mempertahankan kemunculan populisme Islam baru (Pribadi, forthcoming).Secara umum, Muslim perkotaan kontemporer terus-menerus mencari dunia yang didefinisikan secara religius, dan menyediakan tatanan moral dan perlindungan spiritual bagi manusia. Menurut Peter Berger, dalam dunia yang bersifat materialistis ini, agama, atau pandangan dunia keagamaan, adalah ‘kanopi suci’ (Berger 1967).

Bagi Muslim perkotaan, Islam mewakili berbagai ‘kanopi suci’ yang menyuburkan ikatan dan kesalehan bersama serta memaksakan perintah suci secara moral pada kegiatan kosmologis dan sehari-hari. Kita menjadi terbiasa melihat bagaimana masyarakat Muslim berupaya mengatasi kondisi dunia yang semakin sekuler (Pribadi, forthcoming). Namun, religiusitas yang muncul di kalangan Muslim perkotaan sering dibangun di atas ketidakpuasan.

Transformasi sosial yang cepat ditandai oleh industrialisasi, urbanisasi, dan modernisasi dapat menghasilkan dislokasi dan kekecewaan di antara segmen masyarakat tertentu, seperti kaum muda, borjuis kecil, dan anggota kelas menengah yang frustrasi oleh kurangnya mobilitas sosial, dan mereka ini selalu siap untuk melakukan protes (Ismail 2006: 11-13).

Pendukung populisme Islam di Indonesia pada umumnya damai, dalam arti bahwa mereka tidak berusaha keras mengubah Indonesia menjadi medan perang terbuka antara Muslim dan non-Muslim, atau antara sesama Muslim tetapi yang berbeda dalam aliran dan ekspresi keagamaan. Namun demikian, mereka sering menunjukkan intoleransi dalam cara mereka berdebat, mempromosikan, dan menyebarkan perspektif mereka tentang Islam dan sangat kritis terhadap Muslim dan non-Muslim yang tidak memiliki pandangan yang sama. Tindakan intoleran ini seringkali pada akhirnya menyebabkan ketegangan sosial-keagamaan (Pribadi, forthcoming).
 
Oleh karena itu, selain menunjukkan bentuk-bentuk Islam yang damai dan moderat, Vedi Hadiz berpendapat bahwa Indonesia dapat juga digunakan untuk dengan mudah mencontohkan bahaya munculnya kekerasan agama dan intoleransi dalam demokrasi, terutama karena kegiatan kelompok main hakim sendiri yang menggunakan agama untuk membenarkan kehadiran mereka (Hadiz 2016: 14).

Sementara itu, Muslim kelas menengah perkotaan yang mapan secara ekonomi, sebenarnya menghadapi masalah dalam aspek sosial-budaya identitas mereka. Ada perasaan tidak aman karena hidup mereka menjadi lebih individualis.

Singkatnya, status sosial ekonomi mereka telah meningkat tetapi kesejahteraan mereka terancam. Khawatir akan hilangnya identitas mereka, umat Muslim yang baru dilahirkan kembali ini menjadikan agama sebagai dasar pengalaman komunal mereka. Bagi mereka, agama menawarkan rasa aman di dunia dan akhirat. Agama dapat menjadi tempat bagi orang untuk mengikat diri ke komunitas mereka dan karena itu menjadi bagian dari identitas mereka (Pribadi, forthcoming).

Muslim kelas menengah perkotaan terus berupaya mengejar, mengklaim, dan mempromosikan pemahaman agama dan identitas Islam mereka, yang cenderung eksklusif dan enggan menerima perbedaan. Saat ini, kelompok-kelompok yang didasarkan pada identitas keagamaan komunal ini telah mengumpulkan kekuatan dan menghadirkan tantangan sosial-politik dalam politik nasional dan lokal, terutama dalam pemilihan umum, pembangunan ekonomi dan masyarakat, urusan agama, dan pendidikan, baik melalui kekuatan mereka sendiri dan juga terutama ketika mereka dimobilisasi secara massal, seperti yang terlihat dari menguatnya populisme Islam.

Sebelum tahun 1998, pemerintah Orde Baru selalu berusaha untuk mengkonsolidasikan kekuatannya melalui gagasan bahwa komunitas yang berdaya membutuhkan penciptaan warga yang secara sosial-politik homogen. Tetapi, pada masa pasca Orde Baru, masyarakat bukanlah sekedar penerima pasif kebijakan negara. Upaya negara dalam homogenisasi komunitas telah membantu membangkitkan perjuangan rakyat dengan politik identitas, khususnya dalam hal politik identitas keislaman yang semakin menguat.

Artinya, kembali ke pertanyaan awal di atas, kondisi delusional ini justru banyak terjadi di kalangan Muslim perkotaan kelas menengah berpendidikan yang cenderung memiliki preferensi keislaman yang modernis-konservatif, bukan pada Muslim pedesaan, atau pinggiran, yang cenderung tradisionalis-moderat.Hal ini berbeda dengan populisme yang terjadi di Amerika Serikat, Thailand, dan Venezuela di mana populisme justru merebak di kalangan masyarakat pedesaan yang mayoritas adalah petani.

Kondisi ini menjadi PR yang berat bagi organisasi-organisasi massa Islam yang moderat, dan terutama bagi sistem pendidikan di Indonesia karena ada kecenderungan bahwa ia mengabaikan proses-proses humanisme dalam pendidikan dan justru malah menyuburkan aspek-aspek kompetisi, narasi-narasi kaitan antara iptek dan imtaq yang cenderung dipaksakan, dan juga pandangan sektarian yang sempit.

Jadi, ini adalah tugas yang berat bagi banyak pihak tentunya, termasuk bagi kalangan pendidikan Islam tradisional, seperti pesantren, untuk terus mengembangkan dirinya menjadi lembaga pendidikan pilihan utama masyarakat Muslim yang mengajarkan humanisme, tetapi adaptif terhadap modernitas, dan juga bagi orang tua yang memiliki anak yang sedang bersekolah yang perlu semakin selektif dalam memilih sekolah dan juga tidak melepaskan tanggung jawab kepada sekolah begitu saja.

https://www.hwmi.or.id/2021/03/mengapa-populisme-islam-dan-politik.html
Pernah terbit di: https://islami.co/mengapa-populisme-islam-dan-politik-identitas-muslim-menjalar-di-kelas-menengah-perkotaan/

Minggu, 07 Maret 2021

PKS Tak Ubahnya Seperti Partai Komunis Indonesia (PKI).

 
*PKS Tak Ubahnya Seperti* 
*Partai Komunis Indonesia (PKI).*
https://artikel.iniok.com/2021/03/pks-tak-ubahnya-seperti-partai-komunis.html
*Prof. Dr. J.E. Sahetapy (81) menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tak ubahnya Partai Komunis Indonesia (PKI)*.

*Guru besar ilmu hukum Universitas Airlangga, Surabaya. yang terkenal dengan cara bicaranya yang pedas tanpa rasa takut kepada siapapun ini mengkritik gaya PKS selama menjadi kubu Prabowo.*

“Kalau kalian mengamat-amati PKI dan PKS secara mendalam, kalian akan menemukan kesamaan diantara mereka,” demikian tulis Sahetapy dalam akun Twitternya @ProfSahetapy.

Narasumber di TVOne, Indonesia Lawyers Club (ILC) ini memang rajin sekali meng-update cuitanya. Banyak hal menarik sehingga merasa perlu untuk memposting cuitannya tanpa menambah mengurangi dan merubah isi dan menafsirkannya.

Cuplikan cuitanya dilakukan pada tanggal Posting 25 Juli 2014 dari jam 17.06 hingga 21.00 sebanyak 142 kali cuitan yang membahas masalah serangan PKS kubunya Prabowo terhadap Kubu Jokowi sebagai kubu sarang PKI dengan #PKSvsPKI. Begini tweet @ProfSahetapy:

@ProfSahetapy 5:06 PM – 25 Jul 2014
Selamat sore, sekarang saya akan memberikan materi pencerahan. Semoga ini dianggap sebagai pencerahan bukan penyesatan.

Karena informasi yang beredar selama ini sebetulnya penyesatan dan memprovokasi karena dibonceng oleh kepentingan politik.

#PKSvsPKI 1. TM2000 pernah, sory.. bukan pernah, tapi sering menyebutkan kalau Jokowi adalah anak PKI. Alasannya apa?

#PKSvsPKI 2. Apalagi kalau bukan karena kepentingan politik. Bukan hanya itu, TM2000 juga mengatakan kalau partai A juga partai yg begini2

#PKSvsPKI 3. Partai yang selama ini dibela-bela oleh TM2000 sebetulnya adalah partai yang lebih menjurus kepada PKI.

#PKSvsPKI 4. Apa sih sebetulnya arti dari Komunisme yang sesungguhnya? banyak orang yang menganggap komunisme itu hanya sebatas paham Hitler

#PKSvsPKI 5. Sebetulnya defenisi komunis itu terletak pada keegoisan yang dibawakan oleh partai itu, meskipun partainya demokratis.

#PKSvsPKI 6. Kalau partainya egois dan hanya menganggap pahamnya saja yang benar, sama saja dengan komunis.

#PKSvsPKI 7. Partai Demokratis, partai Agamis, Partai Sosialis, Partai Nasionalis, Partai Komunis atau partai kue lapis itu sama saja..

#PKSvsPKI 8. Semua partai ingin berebut kekuasaan dengan cara pendekatan yang berbeda-beda, tapi intinya hanya satu. Kekuasaan.

#PKSvsPKI 9. Saya akan meminjam kata orang bijak: “Maling teriak maling”.

#PKSvsPKI 10. Kalau kalian mengamat-amati PKI dan PKS secara mendalam, kalian akan menemukan kesamaan diantara mereka.

#PKSvsPKI 11. Jangan memandang PKS hanya karena mereka membawakan misi agama yang anda percayai, anda salah besar.

#PKSvsPKI 12. Bagi anda Islam adalah agama, tapi bagi para politikus, agama adalah bisnis yang sangat menguntungkan.

#PKSvsPKI 13. Kesamaan yang pertama adalah Internasionalis yang dianut oleh PKI dan PKS. Internasionalis apa yang saya maksud?

#PKSvsPKI 14. Dahulu, PKI dianggap kepanjangan tangan Partai Komunis Uni Sovyet dan China. Pemikiran ini terus berkembang hingga sekarang.

#PKSvsPKI 15. Sama halnya juga dengan PKS yang merupakan perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin (IM) dari Mesir.

#PKSvsPKI 16. PKS mengambil IM versi Said Hawwa faksi Qiyadah Syaikh.

#PKSvsPKI 17. Cita-cita gerakan komunis agar tercipta keadilan distributif ala sosialisme di seluruh negri.

#PKSvsPKI 18. Sementara cita-cita PKS juga ingin menciptakan keadilan distributif ala Islam.

#PKSvsPKI 19. Sementara sudah jelas di Indonesia tidak hanya beragama Islam, tapi mereka ingin memaksakan semuanya sama.

#PKSvsPKI 20. PKI ingin menciptakan keadilan secara sosilis, sementara PKS ingin menciptakan keadilan secara Islamis.

#PKSvsPKI 21. Jadi PKI juga termasuk bagian dari partai Komunis yang ingin memaksakan dan menggeneralkan satu kebenaran menurut versi mereka

#PKSvsPKI 22. PKI tidak secara terang-terangan mengacu kepada gerakan Komunisme di Uni Sovyet maupun China. Demikian juga dengan PKS

#PKSvsPKI 23. Intinya kedua partai ini sama-sama ingin menyamaratakan masyarakat Indonesia dengan satu paham yang mereka anut.

#PKSvsPKI 24. Dalam piagam pendirian dan AD/ART tidak ada disebutkan PKS perpanjangan tangan IM dari Mesir

#PKSvsPKI 25. Meskipun demikian baik PKS atau PKI memiliki orientasi gerakan yang sama, gerakan Universal Internasionalis

#PKSvsPKI 26. Inilah yang menjadi masalah di Indonesia, apakah mungkin Indonesia disamakan dengan dunia luar?

#PKSvsPKI 27. Paham Universal Internasionalis ini tidak cocok dengan Indonesia, bagaimana mungkin Indonesia disamakan dengan agama Islam?

#PKSvsPKI 28. Paham Universal Internasionalis ini tidak cocok dengan Indonesia, bagaimana mungkin Indonesia disamakan dengan negara Komunis?

#PKSvsPKI 29. Itu sebabnya paham PKI harus dibersihkan dari Indonesia, demikian juga paham yang ingin menjadikan Indonesia jadi negara Islam

#PKSvsPKI 30. Paham Universal Internalis tidak cocok di Indonesia, apalagi pahamnya ini ingin memberlakukan peraturan dari salah satu agama

#PKSvsPKI 31. Ketika ada tokoh yang mengatakan memberantas paham ini, beberapa detik kemudian tokoh itu langsung dilabeli “Anti Islam”

#PKSvsPKI 32. Tidak ada yang anti Islam, para tokoh itu hanya anti paham Universal Internasionalis.

#PKSvsPKI 33. Kenapa ada orang yang mendukung paham yang dibawakan PKS? yaa.. karena orang itu beragama Islam, wajar kalau dia dukung.

#PKSvsPKI 34. Sayangnya tidak semua orang Indonesia yang beragama Islam, jadi paham universal ini tidak bisa diterapkan di Indonesia.

#PKSvsPKI 35. Jangan seenaknya dong menentukan peraturan dinegara seribu suku, seribu perbedaan, seribu keberagaman.

#PKSvsPKI 36. Ada partai yang melawan Universal Internasionalis di Indonesia, ketika partai ini bersuara, mereka langsung dituduh Komunis.

#PKSvsPKI 37. Ketika partai itu melawan, partai itu dituduh sebagai partai yang anti Islam. Kok anti Islam sih? mereka kan beragama Islam?

#PKSvsPKI 38. Sebetulnya kalian saja yang tidak paham apa yang diperjuangkan Partai yang menolak Universal Internasionalis itu.

#PKSvsPKI 39. Memaksakan hal yang berbeda menjadi satu paham bukanlah sesuatu hal yang bersifat positif.

#PKSvsPKI 40. Jika ada orang yang melawan PKS, mereka bukan melawan Islam, tapi mereka melawan Paham Universal Internasionalis. Catat!

#PKSvsPKI 41. Sebetulnya apa tujuan dari jaringan antar Komune (PKI) dan Ikhwan (PKS) ??

#PKSvsPKI 42. Tujuan mereka adalah untuk menjalin solidaritas dan persaudaraan lintas negara menjadi kuat.

#PKSvsPKI 43. Diluar partai masih ada ormas yang berorientas Internasionalis seperti Hizbul Tahir.

#PKSvsPKI 44. Sekalipun PKS membawa ajaran Agama, tapi mereka sebetulnya menggunakan cara-cara Komunis. Memaksakan kehendak.

#PKSvsPKI 45. Seandainya anda tidak beragama Islam, apakah anda setuju dengan ajaran yang ingin menjadikan negara ini menjadi Negara Islam?

#PKSvsPKI 46. dapat ditebak, anda juga tidak akan setuju dengan paham itu. Itu yang dilihat oleh partai yang menolak ajaran Universal itu.

#PKSvsPKI 47. Mereka sebetulnya bukan anti terhadap Islam, mereka hanya anti terhadap ajaran yang menyamaratakan perbedaan.

#PKSvsPKI 48. Saat partai anti yang universalis internasionalis ini bergerak, PKS pun menggunakan senjata Agama kepada masyarakat awam.

#PKSvsPKI 49. PKS langsung melabeli partai A dengan “Mereka anti Islam”. Anehnya, masyarakat Indonesia yg belum ngerti langsung percaya..

#PKSvsPKI 50. Sekarang saya akan membocorkan metode yang digunakan oleh PKS.

#PKSvsPKI 51. Partai itu – mau setengah mati dibilang paling agamis pun – tetap saja partai, bukan agama, apalagi Tuhan

#PKSvsPKI 52. Jadi kalau sudah melenceng jauh tidak perlulah dibela mati-matian dan dicari cari pembenarannya, sehingga fanatik buta.

#PKSvsPKI 53. Kalau anda membela mati-matian PKS, ntar malah jadi pemberhalaan loh.

#PKSvsPKI 54. Ini cara PKS berjaya menanamkan idealismenya kepada masyarakat Indonesia.

#PKSvsPKI 55. Giliran melobi, mendekati, dan seolah olah mendukung penguasa baru, ya Tifatul Sembiring jagoannya. (_*teruskan baca artikel penting berikut di bawah ini...*_👴👳👲👇 )
#PKSvsPKI 56. giliran Teriak-teriak sesuka hati – mau bilang sinting, mau bilang apa kek – alias mengumbar mulut bau ya Fahri Hamzah

#PKSvsPKI 57. giliran tebar pesona kepada khalayak ramai ya Anis Mata.

#PKSvsPKI 58. giliran ngritik tajam ya Hidayat Nurwahid..

#PKSvsPKI 59. Cara seperti ini mengingatkan saya dengan permainan catur. Masing-masing punya fungsi, punya langkah dan cara yang berbeda.

#PKSvsPKI 60. Namun tujuan akhirnya adalah memenangkan si raja hitam atau si raja putih. Inilah politik kawan..

#PKSvsPKI 61. Jangan harap PKS itu murni seratus persen membawakan ajaran Islam, justru mereka yg mencoreng Islam kawan..

#PKSvsPKI 62. Nanti kalau saya bilang gini, saya dituduh anti Islam, padahal saya bukan anti Islam, saya hanya anti paham Universalisme dong

#PKSvsPKI 63. Demikian juga partai lain yang melawan PKS, mereka bukan melawan ISLAM, mereka melawan IDEOLOGI Komunis yg ada dalam PKS

*#PKSvsPKI 64. Jaringan Internasionalis antar komune (PKI) dan ikhwan (PKS) menjadikan solidaritas & persaudaraan lintas negara menjadi kuat.*

#PKSvsPKI 65. Seperti PKI yang membantu mengembangkan gerakan komunis di Vietnam, dan merespon ketegangan blok soviet dan Amerika.

#PKSvsPKI 66. Demikian halnya dengan PKS, yang sangat cepat merespon HI Palestina bernama HAMMAS dalam perjuangan melawan Israel.

#PKSvsPKI 67. Makanya tak PKS lebih peduli dengan isu Palestina, ketimbangan isu Tenaga Kerja Indonesia di Arab yang menderita.

#PKSvsPKI 68. Karena PKS lebih terikat pada ideologi Internasionalis daripada ikatan ideologi Nasionalis. Apakah ini yang anda inginkan?

#PKSvsPKI 69. Padahal TKI yang menjadi korban di Arab sana, mayoritas Muslim.

#PKSvsPKI 70. Kalau ada ketegangan di Palestina misalnya, PKS seperti kebakaran jenggot. Padahal ada ketegangan di Indonesia..

#PKSvsPKI 71. PKS tidak perduli, mereka lebih memperdulikan Internasionalisme ketimbang Nasionalisme.

*#PKSvsPKI 72. Bukan hanya itu, mereka hanya memperdulikan orang yang berada dalam lingkupnya saja. Bukankah ini ciri-ciri komunis?*

#PKSvsPKI 73. PKS adalah komunis dalam kemasan agamais..

#PKSvsPKI 74. Untuk menunjang ikatan solidaritas persaudaraan, PKI membangun Poros Jakarta Peking.

#PKSvsPKI 75. Sedangkan PKS, membangun poros Indonesia Turki.

#PKSvsPKI 76. Selain membangun komunikasi juga membuat program pendidikan para kader.

#PKSvsPKI 77. Persis dengan PKI yang mengirim kadernya untuk belajar di Universitas di China, Moskow, Prancis dan negara Eropa lainnya.

#PKSvsPKI 78. PKS pun mendapat jalan untuk mengirimkan kadernya untuk belajar di berbagai Universitas di Timur Tengah dimana IM ada disana.

#PKSvsPKI 79. Saat ini IM cukup berkembang di Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Turki, Arab Saudi, Yaman dan Sudan. Oopps.. Yordania??

#PKSvsPKI 80. Sekedar informasi, Saat pendirian awal PKS pada tahun 1998, IM dari negara di Timur Tengah banyak membantu pendanaan..

#PKSvsPKI 81. Baik PKI ataupun PKS sama-sama lebih mementingkan Internasionalisme dan sistem sekutu-sekutu.

#PKSvsPKI 82. PKS berusaha mencari sekutu dari negara Islam. Tidak masalah memang paham Internasionalisme, tapi utamakan Nasionalisme dulu.

#PKSvsPKI 83. PKI, PKS, Komunis, Agamis punya musuh bersama. Paham ini yang menjadi dasar pemikiran Internasionalis PKI dan PKS.

#PKSvsPKI 84. Siapa musuh mereka? kita semua sudah tau. Tak perlu dijelaskan lagi..

#PKSvsPKI 85. Perbedaan ideologi memacu ketegangan antar blok dunia.

#PKSvsPKI 86. Meskipun Indonesia secara nyata berada pada posisi Non Blok, akan tetapi karena pengaruh PKI.

#PKSvsPKI 87. Sukarno sering menyerang kebijakan Amerika dan Inggris karena PKI menerima semua masukan dari orang Indonesia, termasuk PKI

#PKSvsPKI 88. Kebencian komunis terhadap Amerika dan Inggris, sama dengan partai komunis di negara manapun.

#PKSvsPKI 89. Mengapa anda membenci Amerika dan Inggris? ya itu dia.. dalam otak anda masih tersisa ajaran-ajaran PKI.

#PKSvsPKI 90. Demikian juga dengan PKS, yang memandang Amerika dan Israel sebagai musuh bersama.

#PKSvsPKI 91. Dimanapun IM berada dan di negara manapun itu, musuh mereka tetap sama. Musuh IM tetap Amerika, Inggris dan sekutunya.

*#PKSvsPKI 92. PKI dan PKS berusaha menanamkan ajaran yang Internasionalis kepada anda*.

#PKSvsPKI 93. Sementara partai Nasionalis ingin mengajak anda mementingkan Indonesia dulu, baru mementingkan Internasional.

#PKSvsPKI 94. Bendera PKS mengajak anda adalah Bendera Agama.

#PKSvsPKI 95. Inilah yang menjadi dilema bagi masyarakat Indonesia, mengutamakan Internasionalisme atau Nasionalisme?

#PKSvsPKI 96. Untuk identifikasi musuh, maka diciptakan jargon bersama.

#PKSvsPKI 97. PKI menyebut Amerika dan sekutunya sebagai bahaya Imperialisme

#PKSvsPKI 98. Sedangkan PKS & IM menyebutnya sebagai bahaya Zionis. Jelas sekali PKS dan PKI punya misi menghancurkan musuh yang sama.

*#PKSvsPKI 99. PKS & PKI termasuk Komunis juga sebetulnya, hanya saja mereka dalam kemasan yang berbeda, yang satu Sosialis, yang satu Agamis*

#PKSvsPKI 100. Jargon PKI dan PKS itu sama dinegara-negara yang menganutnya, Secara tidak langsung menunjuk pada sasaran yang sama.

*#PKSvsPKI 101. Sasaran PKS dan PKI adalah Amerika, Israel, Inggris. Sudah jelas.. PKS dan PKI punya musuh yang sama.*

*#PKSvsPKI 102. Seperti itulah cara PKS dan PKI untuk melawan musuh Internasionalnya. Lalu bagaimana dengan menghadapi Musuh dalam negeri?*

#PKSvsPKI 103. Untuk musuh di dalam negri, mereka biasa menyebut dengan istilah “antek atau agen”. Voila.. terbongkar sudah..

#PKSvsPKI 104. PKI menyebut antek atau agen Imperialis, sedang PKS menyebunya antek atau agen Zionis.

#PKSvsPKI 105. Siapapun orang atau organisasi yang dianggap PKS dan PKI sebagai musuh, maka akan keluar stigma Antek asing..

#PKSvsPKI 106. Saya membenarkan kalau ada gerakan Zionisme, tapi sebetulnya itu mengacu pada kekuasaan yg ingin diciptakan oleh USA.

#PKSvsPKI 107. Sayangnya negara/gerakan yang tidak sepaham dengan paham Imperialis hanyalah Komunis… hanya kedua paham ini yg ada.

*#PKSvsPKI 108. Kalau PKS dan PKI membelot dan menolak Amerika, artinya PKS dan PKI adalah….. (Jawab sendiri)*

*#PKSvsPKI 109. Yang terjadi di Indonesia, TM2000 menyebut Jokowi agen Asing. Artinya TM2000 itu kalau tidak Komunis, pasti PKS.*

*#PKSvsPKI 110. Baik PKI dan PKS tidak menyukai hal yang berbau “barat”, TM2000 juga seperti itu.*.

*#PKSvsPKI 111. Bagi mereka barat identik dengan Liberal. PKI sering menuding pejabat negara dengan hidup mewah dicap sebagai prilaku Liberal*

*#PKSvsPKI 112. Demikian juga dengan PKS yang sering menuding orang dengan cap serupa: Liberal.*

*#PKSvsPKI 113. Diantaranya menuding Liberal kepada media massa. Padahal senyatanya prinsip kebebasan pers hanya tumbuh di negara demokratis.*

#PKSvsPKI 114. Hanya negara yang otoriter yang membatasi ruang kebebasan pers.

#PKSvsPKI 115. Ketika Uni Soviet berhadapan dengan sekutu yg dipimpin oleh Amerika dalam perebutan Jerman tahun 1945

#PKSvsPKI 116. maka saat itu juga, kebencian terhadap Amerika dan sekutunya lahir dan menyebar luas dinegara komunis.

#PKSvsPKI 117. Kebencian Uni Soviet terhadap Amerika ditularkan gerakan komunis di Indonesia.

#PKSvsPKI 118. Demikian juga dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang secara langsung terlibat perang di Palestina melawan Israel.

#PKSvsPKI 119. Kebencian terhadap Israel zionis Amerika, ditularkan juga ke Indonesia melalui ajaran PKI dan PKS.

#PKSvsPKI 120. Padahal kalau kita menelisik sejarah, musuh Indonesia adalah Belanda, Jepang dan NICA Inggris.

#PKSvsPKI 121. Kok bisa yah secara tiba-tiba kita membenci Amerika? Belum pernah bangsa Indonesia berkonfrontasi langsung dengan Amerika.

#PKSvsPKI 122. Inilah paham yang disebarkan oleh PKS dan PKI. Aneh kan orang Indonesia lebih membenci Musuh Komunis daripada musuh Nasional?

#PKSvsPKI 123. Padahal Amerika yang membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang dengan cara tidak langsung.

#PKSvsPKI 124. Kalau seandainya Bomb tidak jatuh di Hirosima dan Nagasaki, tidak akan pernah terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia.

#PKSvsPKI 125. Tapi inilah paham yang diajarkan PKI dan PKS. Kita diajak untuk memusuhi musuh Komunis. Musuh komunis siapa?

#PKSvsPKI 126. Siapa lagi kalau bukan Amerika?

#PKSvsPKI 127. Namun bibit permusuhan dengan Amerika dibawa oleh komunis Soviet, maka PKI pun mengangap sebagai musuh bersama.

#PKSvsPKI 128. Demikian juga Israel belum pernah terlibat konfrontasi langsung dengan Indonesia.

#PKSvsPKI 129. Tapi secara misterius Indonesia langsung membenci Israel, hanya karena agama.

#PKSvsPKI 130. Ingat, agama anda sudah dimanfaatkan oleh para komunis untuk melawan Amerika.

#PKSvsPKI 131. Saya bukan orang Komunis dan juga bukan Imperialis, saya netralis.. saya hanya pengamat..

#PKSvsPKI 132. Sebaliknya, PKI tidak pernah menjadikan zionis atau Israel sebagai isu yang menyulut api permusuhan.

#PKSvsPKI 133. Demikian juga dengan PKS, tidak pernah menjadikan komunis Soviet (Rusia) dan China, sebagai isu permusuhan

#PKSvsPKI 134. Padahal jika dilihat ajaran komunisme dianggap ateis atau tidak mengakui adanya Tuhan.

#PKSvsPKI 135. Itu sebabnya saya mengatakan kalau PKS adalah Komunisme dalam kemasan yang berbeda, mereka komunis dalam kemasan Agamais.

#PKSvsPKI 136. PKI dan PKS sangat kaya perbendaharaan kata untuk memberi stempel bagi musuh-musuhnya.

#PKSvsPKI 137. Dahulu ada cap seperti kaum sarungan, tuan tanah, feodal, kapitalis birokrat (kabir), sekterian, revisionis, anti rakyat.

#PKSvsPKI 138. Kalian anak muda yang membaca Twit ini mungkin tidak akan tau dengan sebutan-sebutan ini, karena belum lahir.

#PKSvsPKI 139. Sekarang PKS muncul dan memberikan cap kafir, dajjal, tukang fitnah, thogut, musyrik kepada musuh-musuhnya.

*#PKSvsPKI 140. Pendek kata, baik PKI dan PKS sangat mudah memberi cap stempel kepada musuh-musuhnya.*

#PKSvsPKI 141. Saya sudah menjelaskan Prinsip Internasionalis dan Musuh Bersama PKI dan PKS, sebetulnya masih banyak yg ingin saya jelaskan

#PKSvsPKI 142. Tapi untuk beberapa menit kedepan kuliah kita Istrahat dulu, saya mau membuat secangkir kopi hangat.

*Jadi silahkan pembaca tafsirkan sendiri apa yang terkandung di dalamnya. Dan tentu saja sangat panjang, perlu kemauan untuk mambacanya.*
Sumber: Akun Twitter Prof. Sahetapy

Kamis, 04 Maret 2021

Pencabutan Ketentuan Tentang Investasi Miras Dalam Perpres No 10 Tahun 2021

Pencabutan Ketentuan Tentang 
Investasi Miras Dalam Perpres 
No 10 Tahun 2021

Oleh: Yusril Ihza Mahendra

Setelah mendapat banyak kritik, masukan dan bahkan kecaman, Presiden Jokowi akhirnya hari ini (2/3/2021) mengumumkan pencabutan beberapa ketentuan dalam Lampiran Perpres No 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal terkait pengaturan penanaman modal untuk pabrik pembuatan minuman beralkohol atau minuman keras (miras) dan pengaturan tentang investasi perdagangan miras.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa keputusannya itu diambil setelah mendapat masukan dari banyak ulama dan tokoh-tokoh Ormas dan lembaga-lembaga Islam yang menolak pengaturan tentang investasi pabrik pembuatan miras itu. Penolakan itu wajar mengingat negeri ini adalah negeri mayoritas Muslim yang meyakini bahwa minuman beralkohol adalah terlarang atau haram untuk dikonsumsi. Keyakinan keagamaan yang dianut oleh mayoritas rakyat, memang wajib dipertimbangkan oleh negara dalam merumuskan kaidah hukum dan kebijakan yang akan diberlakukan. Indonesia adalah negara berdasarkan Pancasila, yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita bukan negara sekular yang tidak mempertimbangkan faktor keyakinan keagamaan dalam membuat norma hukum dan kebijakan-kebijakan negara.

Di Philipina, yang konstitusinya tegas mengatakan negara itu adalah negara sekular, faktor keyakinan keagamaan rupanya tetap menjadi pertimbangan negara dalam membuat norma hukum dan merumuskan suatu kebijakan. Sahabat baik saya, Gloria Arroyo Macapagal dari Partai CMD (Christian-Muslim Democrat) ketika menjabat sebagai Presiden Philipina telah memveto pengesahan RUU tentang Kontrasepsi yang telah disetujui Senat Philipina. Pertimbangannya hanya satu: Gereja Katolik Philipina menentang Keluarga Berencana yang dianggap tidak sejalan dengan doktrin keagamaan. 

Kalau di negara yang mengaku sekular, ternyata pertimbangan keagamaan tetap penting, maka negara yang berdasarkan Pancasila seharusnya berbuat lebih dari itu: Keyakinan keagamaan wajib dipertimbangkan dalam negara merumuskan kebijakan apapun. Langkah seperti itu tidak otomatis menjadikan Negara Republik Indonesia ini menjadi sebuah Negara Islam. Negara RI ini tetap menjadi sebuah negara yang berdasarkan Pancasila. Negara wajib mempertimbangkan keyakinan keagamaan rakyatnya dalam membuat norma hukum dan merumuskan suatu kebijakan. Negara juga berkewajiban memfasilitasi dan memberikan pelayanan terhadap pelaksanaan ajaran-ajaran agama, bukan hanya Islam, tetapi semua agama yang hidup dan berkembang di negara ini sejauh memerlukan peran dan keterlibatan negara dalam melaksanakannya.

Dalam Perpres yang dimaksudkan untuk memberikan kemudahan investasi ini, Pemerintah seperti “keseleo lidah” dengan memberikan kemudahan investasi pabrik pembuatan miras, baik PMDN maupun PMA. Asing boleh membuka pabrik dengan modal 100 persen PMA. Begitu juga PMDN. Sebelum Perpres ini, investasi di bidang miras ini dinyatakan tertutup. Dengan Perpres ini dinyatakan terbuka untuk investasi. Daerah yang dibuka untuk investasi ada di tiga provinsi, Bali, Sulawesi Utara dan Papua. Daerah lain boleh juga, asal diajukan oleh Gubernur kepada Kepala BKPM. Ini berarti peluang untuk membuka pabrik miras bisa berdiri di mana saja asal diusulkan melalui Gubernur ke Pemetintah Pusat. Keruan saja, pengaturan dalam lampiran Perpres ini mendapat penolakan dari daerah-daerah yang pengaruh Islamnya sangat kuat.

Lebih jauh daripada itu, lampiran Perpres ini juga membuka investasi untuk penjualan miras. Dalam Lampiran 3 angka 44 dan 45 diatur mengenai dibukanya investasi Perdagangan Eceran Minuman Keras atau Beralkohol dan “Perdagangan  Eceran  Kaki Lima Minuman Keras atau Beralkohol”. Persyaratannya hanya mengatakan “Jaringan distribusi dan tempatnya khusus”. Saya menganggap pengaturan ini keterlaluan. Masa Pemerintah mempermudah investasi  perdagangan eceran kaki lima minuman keras baik bagi PMA maupun PMDN. Untuk apa ada Penanaman Modal Asing untuk jualan miras di kaki lima? Padahal, perdangan miras seperti ini justru berbahaya bagi kehidupan masyarakat dan semestinya dilarang. Penjualan miras di kaki lima seperti ini harusnya dinyatakan tertutup dan diatur dengan Perpres tersendiri, bukan dalam Perpres tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Saya mengakui bahwa dalam masyarakat yang majemuk seperti kita, ada warga yang menurut keyakinan agamanya meminum miras bukan sesuatu yang dilarang. Sebagaimana halnya memakan daging babi adalah haram bagi umat Islam, bagi penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu makan daging babi adalah “halal” dan bukan sesuatu yang “haram” atau terlarang sebagaimana keyakinan umat Islam. Terhadap warganegara dan penduduk yang menganggap miras atau daging babi itu bukan sesuatu yang haram, maka negara juga harus melindungi dan memfasilitasi kepentingan mereka. Ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi pemeluk Islam, tentu tidak dapat diberlakukan kepada pemeluk-pemeluk agama lain. Demikian pula sebaliknya.

Saya kira, di negara yang berdasarkan Islam pun, pengaturan bagi kepentingan pemeluk-pemeluk agama selain Islam, akan tetap ada. Hak-hak warganegara non Muslim wajib dilindungi dan dijamin oleh negara yang berdasarkan Islam. Saya kira di negara berdasarkan Pancasila ini hal seperti itupun ada dan dalam praktik telah dilaksanakan, walau masih banyak hal yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Di pasar tradisional kita di berbagai daerah, biasanya ada kounter khusus untuk menjual daging babi yang diberi tulisan khusus untuk itu. Tempatnya dibuat sedemikian rupa, nyaman dan tidak mengganggu umat Islam yang tentu tidak ada kepentingannya untuk mampir ke kounter tempat menjual daging babi itu. 

Pengaturan tentang miras pun bisa seperti di atas. Peternakan babi tentu boleh, tetapi dinyatakan tertutup untuk investasi keciali dengan syarat-syarat tertentu, tempatnya khusus dan tunduk pada syarat-syarat tertentu yang ketat sehingga tidak menimbulkan kericuhan antar warga. Begitu juga investasi pabrik miras harusnya dinyatakan tertutup untuk investasi, kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Selain soal investasi, pengawasan ketat terhadap perdagangan miras harus diperketat. Semestinya, jangankan membuka investasi penjualan miras di kaki lima, menjual miras di kaki lima saja harus dilarang, bukan dipermudah seperti pengaturan dalam lampiran Perpres ini seperti telah saya katakan di atas.

Syukurlah ketentuan-ketentuan tentang kemudahan investasi pabrik pembuatan dan perdagangan miras dalam Perpres No 10 Tahun 2021 cepat dicabut dan dihilangkan oleh Presiden Jokowi. Sekali ini Presiden Jokowi cepat tanggap atas segala kritik, saran dan masukan. Presiden Jokowi biasanya memang tanggap terhadap hal-hal yang sensitif, sepanjang masukan itu disampaikan langsung kepada beliau dengan dilandasi iktikad baik.

Ketentuan-ketentuan lain yang diberi kemudahan investasi dalam Perpres No 10 Tahun 2021 nampaknya tidak mengandung masalah krusial dan serius. Sebab itu tidak ada urgensinya untuk segera direvisi. Setelah pernyataan pencabutan hari ini, Presiden tentu harus menerbitkan Perpres baru yang berisi perubahan atas Perpres No. 10 Tahun 2021 ini, khusus menghilangkan ketentuan dalam lampiran terkait dengan miras. Dengan perubahan itu, maka persoalan pengaturan investasi miras ini dengan resmi telah dihapus dari norma hukum positif yang berlaku di negara kita.*

Jakarta 2 Maret 2021
=========================================


https://www.cnbcindonesia.com/news/20210302182124-4-227338/siapa-yang-awalnya-desak-jokowi-restui-investasi-miras

==========================================
📍 Peraturan Presiden No. 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, justru mengatur dan membatasi penanaman modal untuk minuman beralkohol hanya boleh di Bali, NTT, Sulut, dan Papua. DAERAH LAIN  TIDAK BOLEH. Mengingat kultur dan kearifan lokal wilayah.

SELAMA INI  Penanaman modal minuman beralkohol TIDAK DIATUR dan TIDAK DIBATASI. 
Sehingga, misalnya pabrik bir bintang ada di Jatim dstnya. 
Sekarang dengan adanya Perpres itu JADI TIDAK BOLEH.

Kearifan lokal lain, ya seperti kalo betawi ada bir pletok, jawa ada beras kencur. 
yg enggak mau bir pletok dan beras kencur ya enggak apa dan enggak usah ikut minum.

Selama ini justru tidak ada pembatasan atau pelarangan penanaman modal minuman beralkohol alias bebas. 

📝 Nah, dengan Perpres itu sekarang penanaman modal minuman beralkohol "DIBATASI" dan "DIATUR". "BUKAN-DILARANG". 

Kok nggak dilarang? 
Islam memang mengharamkan minuman beralkohol. Tapi Indonesia penduduknya beragam agama. Oleh sebab itu lalu di atur dan dibatasi.

Madzhab Hanafi menganggap mabuk-mabukan itu haram, minum khamr tidak haram. Madzhab Syafi’i menganggap minum khamr itu haram, apalagi mabuk-mabukan. Madzhab Jakfari (Syiah 12 Imam) minum anggur/wine itu haram, termasuk khamr haram. Negara menghargai perbedaan itu.

Kebanyakan kita enggak baca Perpresnya, tapi langsung dengar kata alkohol, seolah-olah seluruh Indonesia boleh. 

Jadi...Perpres ini mengatur khusus soal penanaman modal minuman beralkohol. Bukan mengatur soal boleh atau tidak meminum alkohol.




NASIB ORANG TIDAK ADA YANG TAHU

 

*NASIB ORANG TIDAK ADA YANG TAHU*
Kalian tahu siapa sosok bocah dalam foto yang di beri tanda lingkaran merah itu?

*Siapa sangka jalan hidup anak kecil yang sedang bermain* di kubangan lumpur ini kelak akan jadi seperti apa.

*Begitulah memang tak pernah ada yang tahu jalan hidup* seseorang. Karena masa depan adalah rahasia ilahi yang tak seorang pun dari kita mengetahuinya dengan pasti.

*Sama seperti halnya anak kecil ini.* Tak ada yang mengira bahwa kini jalan hidup telah membawanya pada sebuah takdir yang dia sendiri juga tidak tahu. 

*Jadi, siapa sebenarnya anak kecil itu* dan jadi apa dia sekarang?

Tentu dari semua kita banyak sekali yang tidak  tahu, karena saya sendiri juga tidak tahu siapa dia.....

*Anak ini adalah Jenderal dr. Terawan Agus Putranto* yg akhirnya melalui jenjang SMA BOPKRI 1, kuliah di Fakultas Kedokteran UGM dan saat ini *sedang menyelesaikan vaksin Nusantara dan bersama berbagai pihak*.

Apa itu shadow oligarchy?

Apa itu shadow oligarchy? 

Shadow oligarchy merupakan sekelompok elit Indonesia, yang selama ini menggadaikan alam Indoensia, dan memperlakukan sebagian rakyat sebagai budak. 
Mereka menjual alam kita yang kaya ke pihak asing dengan harga murah. 
Shadow oligarchylah yang bertanggung jawab atas devaluasi rupiah yang merupakan salah satu yang tergila di dunia sejak Indonesia merdeka. 

Shadow oligarchy mulai bertumbuh menggurita secara pelan tapi pasti, sejak Indonesia menandatangani perjanjian dengan Freeport, hanya 1 bulan sejak pelantikan pertama Soeharto sebagai presiden.
 Setelah itu, kita menyaksikan alam Indoensia dikapling untuk asing, di sebelah sana AS (Freeport, Chevron, Newmont, ConocoPhillips, Exxon), di tengah ada Perancis (Total Indonesie), di tempat lain Inggris (British Petroleum). 

Kerja menggadaikan alam Indonesia tidak hanya lewat pertambangan dan perminyakan, melainkan juga hutan.
 Satu contoh, izin usaha perkebunan sawit di Boven Digul, Papua, dibongkar lewat investigasi oleh Majalah Tempo dan satu koran di Malaysia.
 Ternyata, jajaran direksi perusahaan sawit itu, hanya satu orang yang pengusaha, sisanya adalah pembantu rumah tangganya, sopirnya, dll. 
Lalu siapa yang mengelola usaha tsb?
 Satu team expert di Singapura, dan sedikit dari Malaysia. 

Lalu apa yang dimaksud dengan perbudakan oleh shadow oligarchy?
 Mereka memelihara kemiskinan pada petani kecil seluruh Indonesia.
 Saking serakahnya, shadow oligarchy tidak hanya menguasai usaha dengan modal ratusan milyar atau triliunan, tapi juga ratusan perusahaan kecil dengan modal di bawah Rp 10 M, yang membeli kekayaan petani sebelum panen yang terpaksa dilepas petani dengan harga murah. 
Itulah perbudakan yang nyata. 
Bahkan di masa Orde Baru, perbudakan itu disahkan oleh negara, a.l. lewat pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin oleh Tommy Soeharto, yang seolah membantu petani, tapi sebetulnya menghancurkan harga di tingkat petani, demi keserakahan yang brutal.

=======================================
Artikel lain


Ini yang dimaksud sbg nekolim (neo kolonialisme dan imperialisme) oleh Bung Karno. 

Kolonialisme dan imperialisme di suatu negara selalu terkoneksi sebagai jaringan global. Semua di bawah kendali elit global dan dioperasikan oleh para minion di level lokal. 

Kelompok elit ini disebut juga globalis. Forum ekonomi global diatur dan dikendalikan oleh para elit ini sehingga menjadi sistem oligarki. 

Keserakahan membuat banyak orang lupa dan tidak sadar masuk dan terlibat menjadi pendukung dan operator kepentingan para elit ini. 

Mereka yang dididik oleh sistem para elit itu melalui berbagai program beasiswa, saat kembali pulang ke negara asal dengan kapasitas jabatan mereka, mereka ciptakan aturan dan sistem yang mendukung kepentingan boss besar yang disebut para elit itu. 

Mereka mengatur pengetahuan-pengetahuan apa yang harus diajarkan di sekolah. Pengetahuan bagaimana yang dianggap benar. Mereka membuat narasi berita sesuai yang diajarkan pada mereka. Mereka membuat undang-undang dan kebijakan publik sesuai pesanan. Mereka merekomendasikan cara pengobatan dan obat-obatan kimia sesuai yang diajarkan pada mereka. 

Sistem ini sangat halus merasuki pikiran mayoritas manusia karena apa yang mereka katakan dan instruksikan dianggap sebagai petunjuk dari para ahli. 

Biasanya media akan meliput orang-orang didikan elit global ini sebagai orang-orang muda brilian yang perlu diteladani. 

Inilah mengapa Bung Karno mengingatkan bahwa tantangan masa depan atau zaman ini adalah sesama anak bangsa yang mengabdi dan melayani sistem oligarki global itu.

Go Tik Swan, Maestro Batik Keturunan Tionghoa.

Go Tik Swan, Maestro 
Batik Keturunan Tionghoa.

Namanya Kangjeng Pangeran Tumenggung (K.P.T.) Hardjonagoro. 

Dari gelar yang disandang di depan namanya sudah pasti ia adalah sosok penting yang di dalam raganya mengalir “darah biru” dari sebuah kasunanan atau kerajaan di Pulau Jawa.
Bukan, ia hanyalah seorang rakyat biasa, dan terlahir sebagai keturunan Tionghoa. Sumbangsihnya terhadap pelestarian budaya Jawa-lah yang membuat Keraton Surakarta menganugerahinya gelar prestisius tersebut.
Go Tik Swan, sebuah nama yang diberikan ayahnya, Gho Ghiam Ik, seorang pengusaha batik ternama di Surakarta kepadanya ketika lahir di Desa Kratonan, Serengan, Surakarta pada 11 Mei 1931 silam.

Di kemudian hari Tik Swan menjelma menjadi seorang keturunan Tionghoa yang sangat mencintai dan dianggap sebagai pelestari budaya Jawa, melebihi orang-orang yang memang terlahir sebagai orang Jawa. Peraih anugerah Bintang Budaya Parama Dharma 2011 ini telah menciptakan 200 motif batik yang terkenal dengan trade marknya, Batik Indonesia. Sebagai anak dari keluarga terpandang maka Saat menginjak usia 7 tahun Tik Swan menempuh pendidikan dasarnya di Neutrale Europesche Lagere School (NELS) di Surakarta. Sebuah sekolah yang latar belakang siswa-siswinya berasal dari kalangan keluarga terpandang seperti warga keraton, anak-anak ningrat, pemuka masyarakat, serta pejabat.

Namun, kesibukan kedua orang tuanya membuat Tik Swan lebih banyak diasuh oleh kakeknya, Tjan Khay Sing yang juga seorang pengusaha batik. Kakeknya merupakan pengusaha batik nomor satu di Solo yang memiliki empat lokasi pembatikan, yakni dua di Kratonan, dan sisanya di Ngapeman dan Kestalan. Berada di lingkungan pembatik, hari-hari Tik Swan dilalui bersama para pekerja yang membersihkan malam dari kain, mencuci, membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga, menulisi kain dengan canting, dan sejumlah aktivitas pembuatan batik lainnya.
Lingkungan itulah yang kemudian membentuknya menjadi seseorang yang mulai menunjukkan ketertarikannya pada budaya tradisional Jawa. Tik Swan selalu terlihat anstusias ketika pada pembatik bekerja sembari menembang lagu-lagu jawa, atau ketika mendengar dongeng-dongeng yang bercerita tentang kebudayaan Jawa.

Lazimnya anak kecil yang gampang berubah-ubah minat dan ketertarikannya, tidak demikian dengan Tik Swan. Ketertarikannya terhadap tradisi dan budaya justru semakin tumbuh dan subur seiring pertambahan usianya. Segala sesuatu yang berbau seni tradisional Jawa selalu menyedot perhatiannya. Gayung bersambut, tak jauh dari kediaman kakeknya di Coyudan, berdiri sebuah klenteng yang kerap mengadakan pertunjukan wayang, pertunjukan yang membuatnya sering mampir untuk menonton. Dari wayang ini pula ketertarikan Tik Swan tumbuh pada tari-tari Jawa, sehingga memutuskan berguru kepada putra Pakubuwono IX yakni G.P.H. Prabuwinata yang dikenal sebagai seniman keraton yang ahli di bidang karawitan, tari dan pedalangan. Minat Tik Swan ternyata ditentang oleh kedua orangtuanya. Namun gairahnya mendalami budaya Jawa tak terbendung. Ia mengabaikan tentangan tersebut.

Orangtua Tik Swan punya cara menjauhkan putra sulungnya dari dunia tari dan ragam budaya jawa lain yang digeluti anaknya. Pada tahun 1953, ia kemudian diminta menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Cara itu ternyata tak efektif membendung seorang Tik Swan yang sedang kasmaran terhadap budaya Jawa. Tanpa sepengetahuan orangtuanya Tik Swan justru memilih kuliah di Fakultas Sastra Dan Filsafat, Jurusan Sastra Jawa UI. Di sini ia justru lebih mendalami aksara Jawa, menonton wayangan dan tari-tari Jawa.
Betapa murkanya sang ayah ketika mengetahui kebohongan Tik Swan.  Tak tanggung-tanggung, ayahnya mengancam segala biaya dan fasilitas ditarik. Tik Swan tetap teguh pada pilihannya dan mengabaikan ancaman sang ayah.

Batik Indonesia

Karena kepiawaiannya membawakan tari-tari Jawa, membuat Tik Swan sering diundang untuk tampil di berbagai pertunjukan. Dalam pentas-pentas ini Tik Swan mulai memperkenalkan nama Indonesia, yakni Hardjonagoro, yang kemudian menjadi nama panggungnya. Hardjonagoro sendiri adalah sebuah pasar di Solo yang dimiliki oleh kakek buyutnya bernama Tjan Sie Ing. Kala itu di tahun 1955 Universitas Indonesia merayakan hari ulang tahunnya. Hardjonagoro bersama rombongan tarinya berkesempatan tampil membawakan tarian Gambir Anom di Istana Negara Jakarta. Sebuah kesempatan langka tampil di hadapan Presiden Soekarno.
Mengetahui salah satu penari adalah pria keturunan Tionghoa dan latar belakang keluarganya sebagai penguasaha batik turun-temurun, Presiden Soekarno menghampirinya. Sang Proklamator kemudian menyarankan kepadanya agar menciptakan batik yang mewakili identitas Indonesia, tak sekadar beridentitas lokal.
Saran Soekarno bak motivasi besar bagi perjalanan hidup Hardjonagoro. Pada tahun yang sama ia memutuskan meninggalkan bangku kuliahnya, pulang ke kampung halamannya, mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya.

Tak sukar baginya menemukan tempat dan guru yang tepat mempelajari batik secara holistik. Kedekatannya dengan keluarga Keraton Solo memungkinkannya belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum di tangan Hardjonagoro dikembangkan sedemikian rupa tanpa menghilangkan ciri khasnya. Pola-polanya diberi sentuhan warna-warna cerah seperti yang diajarkan Ibu Soed gurunya, pencipta lagu yang dikenal piawai dalam seni batik.

Hardjonagoro juga mengembangkan motif-motif baru pada batiknya. Batik dengan warna dan motif baru seperti Parang Bima Kurda, Sawunggaling, Kukila Peksa Wani, Rengga Puspita dan Pisan Bali adalah hasil eksplorasinya menciptakan Batik Indonesia. Kerja keras dan inovasi Hardjonagoro mengantarkan batik ke masa jaya di tahun 1960-1970. Ia tak hanya menciptakan batik dengan warna dan motif indah untuk mempercantik pemakainya, namun juga menjadikan batik sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi.

Kesuksesan itu kembali mempertemukannya dengan sang motivator, siapa lagi kalau bukan Presiden Soekarno. Hardjonagoro kerap diundang Soekarno menjelaskan batik kepada tamu-tamu negara yang berkunjung ke Indonesia. Tak hanya itu, ia juga mendapat tugas sebagai anggota Panitia Negara Urusan Penerima Kepala Negara Asing yang bertanggung-jawab menyelenggarakan pameran batik di Istana Negara, termasuk mendesain batik untuk cinderamata para tamu.
Sepanjang karirnya dari tahun 1950an hingga 2008, Hardjonagoro telah menciptakan sekitar 200 motif batik Indonesia, bahkan di antaranya banyak yang menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia, serta para kolektor batik. Salah satu kolektor batiknya tak lain adalah putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri. Ia menciptakan sebuah motif yang khusus diperuntukkan bagi putri praklamator itu dan diberi nama Parang Megakusumo.

Gelar Kebangsawanan

Kontribusi besar perjalanan hidup Hardjonagoro dalam mengembangkan dan melestarikan budaya Jawa membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. Kedekatannya dengan keluarga Pakubuwono serta kesetiaannya mengabdi pada keraton Kasunanan memprakarsai lahirnya Art Gallery Karaton Surakarta. Hal inilah yang membuat Sri Susuhunan Pakubuwono XI menganugerahkan Go Tik Swan pangkat Bupati Anom bergelar Raden Tumenggung (R.T) Hardjonagoro pada 11 September 1972.

Tak berhneti sampai di situ, di tahun 1984, pangkatnya kembali dinaikkan setingkat lebih tinggi, menjadi Bupati Sepuh, dengan gelar Kangjeng Raden Tumenggung (K.R.T.). Begitu pula sepuluh tahun kemudian, pangkatnya kembali dinaikkan menjadi Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden Hariyo Tumenggung (K.R.H.T.). Bahkan di tahun 1998 Hardjonagoro mendapat gelar pangerannya, yaitu Kangjeng Pangeran Tumenggung (K.P.T.) dan gelar keduanya sebagai Kangjeng Pangeran Aryo (K.P.A.) di tahun 2001.

Atas jasa-jasanya sebagai budayawan dan pembatik, Presiden kenam RI Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah memberikan penghargaan sebagai putra terbaik dengan tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma yang diterima ahli warisnya KRAr Hardjo Suwarno dan istrinya, Supiyah Anggriyani pada tahun 2011 lalu.
Bagi Hardjonagoro bukanlah anugerah gelar atau pangkat yang ia cari, melainkan pengabdian dalam melestarikan budaya itu sendiri, dalam hal ini budaya Jawa hingga akhir hidupnya.(Rafael Sebayang)

[https://www.validnews.id/Go-Tik-Swan--Maestro-Batik-Keturunan-Tionghoa-MxQ]

#persaudaraantionghoaindonesia

Rabu, 03 Maret 2021

Nyaris Bunuh Ortu Krn Larang Ke Suriah

Ken Setiawan: Terpapar Radikalisme, Mahasiswa IPB Nyaris Bunuh Orang Tua Karena Larang Ke Suriah


Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center mengaku mendapatkan laporan dari masyarakat yang cukup histeris, pasalnya pelaku merupakan keponakan Polisi yang menjabat Wakapolres  dan tantenya adalah polwan dengan pangkat Kombes berdinas di Mabes Polri ini hampir membunuh orang tuanya karena dilarang berangkat ke Suriah.


Sebut saja Putra ( Nama Samaran) awalnya adalah anak yang taat dan penurut pada orang tua, rajin ibadah dan suka membantu teman yg membutuhkan.


Awal kecurigaan keluarga karena terjadi penyimpangan perilaku menurut kawan kawan saat berada di kampus IPB Bogor sering dialog frontal memojokan, menyalahkan pemerintah dan aparat, semua yang di lakukan oleh pemerintah dan aparat salah.


Ketika pulang ke rumah, Putra sampai mengecat dinding rumahnya yang semula putih lalu diganti dengan warna cat hitam dan ditengahnya ditulis kalimat tauhid.


Ketika minta dana dan tidak dikasih selalu marah marah, dan tidak tidak segan melempar perabot rumah tangga, 


Bahkan ketika kedua orang tuanya sedang sholat berjamaah dirumah sempat di tendang dan di pukul oleh Abdullah sampai lebam lebam dan memar karena tidak dikasih dana untuk keluar negeri dengan alasan jihad. Sempat ambil senjata tajam tapi berhasil orang tuanya.


Karena curiga, saat Putra kembali kuliah di Bogor, kedua orang tuanya menggeledah kamarnya dan ditemukan surat wasiat pamitan kalau Putra hendak berangkat ke Suriah untuk berjihad.


Akhirnya keluarga menghubungi Hotline NII Crisis Center di 0898-5151-228 dan minta untuk berdialog dengan Putra agar bisa kembali normal seperti sedia kala.


Melalui tahapan identifikasi, investigasi dan rehabilitasi akhirnya Putra menyadari kesalahan dan mulai berubah kembali walaupun belum seratus persen, terus diadakan dialog dan memberikan kegiatan agar tidak berfikir kembali radikal.


Menurut Ken, pola perekrutan radikal kini dilakukan secara acak, siapapun berpotensi direkrut.


Dulu ketika Ken bergabung di Negara Islam Indonesia, keluarga TNI/POLRI sangat di jauhi karena rentan dengan keamanan, kini asal di yakinkan bisa berbohong dan meninggalkan keluarga maka akan menjadi target dan direkrut juga. 


Ini tantangan berat pemerintah, sebab menurut Ken, persoalan terorisme tidak akan bisa hilang bila akar permasalahnya intoleransi dan radikalisme di biarkan. 


Intoleransi bagi Ken adalah pintu gerbang radikalisme dan terorisme, ketika seseorang tidak menerima perbedaan, yang benar hanya dia dan kelompoknya saja sementara kelompok lain salah, bahkan surga diklaim hanya diri dan kelompoknya sementara yang lain di cap masuk neraka.


Penindakan teroris penting, tapi bila pencegahan tidak dilakukan secara terstruktur, sistematif dan masif, maka persoalan terorisme tidak pernah hilang dan tetap akan dapat subur dinegeri ini. Tutup Ken.

Info lengkap https://kontraradikal.com/2021/03/03/ken-setiawan-terpapar-radikalisme-mahasiwa-ipb-nyaris-bunuh-orang-tua-karena-larang-ke-suriah/

Boleh dishare/bagikan.

Artikel.iniOK.com


Senin, 01 Maret 2021

PAYUNG JOKOWI DI TENGAH SAWAH SUMBA TENGAH NTT..

*PAYUNG JOKOWI DI TENGAH SAWAH* *SUMBA TENGAH NTT..*
Oleh: Birgaldo Sinaga

Di Sumba Tengah, NTT, kemarin Presiden Jokowi disambut hujan lebat.

Di lahan sawah menghijau itu, ada ratusan orang petani sedang menunggu kedatangan Jokowi.

Mereka para warga desa yang tadinya hidup sebagai petani musiman di desanya. Setelah bendungan dibangun, kini mereka bisa menanam padi tanpa takut kekeringan.

Sejak pagi warga desa sudah berduyun2 menunggu kedatangan Jokowi. Mereka berdiri di pematang sawah, berkelompok di ujung sawah menjauh dari tempat lokasi panggung Jokowi bersama pejabat Pemda NTT.

Rombongan Presiden Jokowi tiba di pematang sawah. Langit menghitam. Awan menebal. Kilat dan petir bersahut2an. Hujan turun dengan lebatnya.  Hujan lebat itu tidak membuat warga desa itu berlarian mencari tempat berteduh. Mereka tetap berdiri menunggu Jokowi.

Jokowi turun dari mobil. Ia memegang payung hitam. Dengan tenang Jokowi membelah pematang sawah. Ia berjalan sendirian ke arah petani yang berjarak sepelemparan batu.

Paspampres tidak menyangka panglima tertingginya berjalan ke tengah sawah. Paspampres tampak pontang panting berlari mengejar Jokowi. Jokowi tetap melangkah tenang di tengah hujan deras membasahi bumi. Sendirian saja. Tanpa pengawalan. 

Baju lengan panjang putih yang dikenakannya tampak basah terpercik air hujan.  Di ujung sana, para warga desa bertepuk tangan, bersorak memanggil nama Jokowi. Mereka senang sekali.

Tidak lazim seorang Presiden memegang payungnya sendiri. Biasanya ada ajudan yang memayunginya. Tapi Presiden Jokowi memang berbeda. Ia bersikap biasa saja di depan rakyatnya. 

Ia tidak membuat jarak. Jokowi tidak menunjukkan kasta dan level seorang penguasa di sana. Ia seperti pelayan sejati. Mendatangi rakyatnya seorang diri. Dengan sebuah payung di tangannya.

Mungkin sepanjang sejarah Indonesia, baru kali  pertama ini seorang presiden berjalan sendirian menemui rakyatnya dengan payung di tengah hujan lebat.

Payung itu sesungguhnya bukan sekadar payung biasa Bukan sekadar payung untuk  melindungi tubuh Jokowi dari air hujan. Bukan sekadar mencitrakan presiden sebagai sosok pelayan rakyat. Namun, ada pesan kebangsaan yang hendak disampaikan Presiden Jokowi

Payung yang dipegang Presiden Jokowi itu menegaskan bahwa orang NTT dipayungi cinta mendalam dari seorang Jokowi. Cinta yang tulus. NTT seperti anak kandung yang didatangi ayahnya. Seperti seorang ayah mengejar anaknya yang kehujanan 

NTT tidak lagi kekeringan dan terlupakan. Dan, itulah jaminan Presiden Jokowi. Jokowi membangun embung, waduk hingga sumur bor agar air bisa mengalir ke persawahan petani. Petani NTT hidup sejahtera. Tidak miskin lagi. 

Momen Jokowi berjalan sendirian di pematang sawah adalah pesan humble dan hormat Presiden Jokowi. Jokowi tidak banyak bicara untuk merangkul anak bangsa di Indonesia Timur itu. 

Jokowi tak banyak memberikan nasihat bagaimana cara untuk setia pada Pancasila dan Merah Putih.
Jokowi veni, vidi, vici. Jokowi datang, melihat, dan memenangi hati rakyat NTT. Memenangi bukan dengan pintarnya mengolah kata2. Jokowi memenangi dengan memanusiakan orang Sumba Tengah. Ngewongke.

Jokowi merangkul mereka agar berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Membangun apa yang mereka perlukan. Apa yang mereka butuhkan. Kesetiaan negara untuk memajukan bumi NTT akan membuat orang NTT serasa anak kandung republik.

Selamat, Pak Presiden Jokowi. Kami bangga dan hormat padamu. Kesetiaanmu untuk rendah hati dan menjadi bapak bagi semua anak bangsa benar-benar menyentuh batin terdalam kami.
Salam bangga sebagai orang Indonesia.
Birgaldo Sinaga

Mengenal Sosok Artidjo Alkostar Sang Pembela Hukum

 


Sebuah tulisan untuk  lebih mengenal sosok Artidjo Alkostar... (RIP pak Artidjo..).. 

Artidjo Alkostar 

SEBUAH KITAB KEADILAN 

Oleh Hamid Basyaib

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. 

Sebagai pengacara hingga akhir 1990an, berkantor di bangunan semi-permanen berdinding gedek di pinggiran Jogja, ia tak pernah merundingkan biaya jasa kepada kliennya. Suatu kali seorang klien yang perkaranya menang, kebingungan. Ia merasa harus berterima kasih atas layanan hukum Artidjo. Ia berasal dari Madura, dan tinggal di Kulonprogo. Jika memberi uang, ia kuatir jumlahnya terlalu kecil dan bisa menyinggung perasaan si pengacara. Untuk memberi honor besar, ia tak punya cukup uang. Tiadanya kesepakatan mengenai besaran fee membuatnya repot dan serba salah. 

Akhirnya ia mendapat ide cemerlang: ia akan memberi sepotong jimat sebagai imbalan kepada si pengacara yang ia duga menyukai hal semacam itu, mengingat latar-belakang komunitas dan daerahnya, Madura-Situbondo. "Saya bilang kepada dia, kamu bawa pulang saja barang milikmu ini," tutur Artidjo kepada kawan-kawannya dengan terkekeh. "Saya tidak percaya dengan jimat-jimatan." 

Bagi Artidjo, jasa hukum bukanlah hal yang pantas dirundingkan, apalagi dengan tawar-menawar. Jika klien puas dengan layanan  jasanya, mereka boleh membayar seikhlasnya. Bila mereka tak membayar, tidak mengapa. 

Seorang dosen yang menjadi kliennya sangat bahagia karena menang di pengadilan. Dua mantan mahasiswa Artidjo yang bekerja di firma hukumnya berinisiatif menagih bayaran kepada klien yang gembira itu. Ini hal yang sepenuhnya lumrah. Semua orang mafhum belaka dengan adat istiadat di dunia bisnis jasa seperti lawyering, yang kemahalannya justeru cenderung dimaklumi. 

Dua pengacara muda itu sangat terkejut menerima akibat tindakan normal mereka. Si klien menelepon Artidjo dan memberitahu soal penagihan biaya pengacara. Artidjo kontan memecat dua pengacara itu. "Mereka bikin malu," katanya. "Kalau klien mau membayar, silakan saja. Tapi jangan ditagih-tagih!"

Meski kantor hukumnya sulit dibedakan dari yayasan amal, tak banyak klien yang meminta jasanya untuk mewakili mereka. Mereka tahu: jika menyerahkan perkara kepadanya, mereka harus lebih siap untuk kalah daripada menang. Mereka tahu: Artidjo tidak disukai oleh semua instansi hukum maupun lembaga-lembaga lain, sebagai ekor dari aksi-aksi pembelaan heroiknya yang "nekat" terhadap para korban "penembakan misterius" (petrus, pertengahan 1980an; suatu aksi ekstralegal di seluruh Indonesia yang dimulai di Jogja). 

Waktu itu ia direktur LBH Jogja, dan gencar mengecam tindakan ekstralegal yang sepenuhnya menginjak-injak tatanan hukum -- mayat para preman setiap hari ditemukan warga di sungai, sudut jalan dan tempat-tempat terbuka, dengan kepala dan tubuh penuh lubang peluru, setelah mereka diculik dari rumah atau diringkus di tempat-tempat hiburan. Tidak ada pihak yang menyatakan diri sebagai pelaku pembunuhan biadab itu, tapi Artidjo, seperti semua orang, tahu siapa yang memiliki kemampuan untuk melakukan operasi bersenjata semacam itu. 

Beberapa preman berhasil dilindungi dan diselamatkannya -- tindakan yang bagi hampir semua rekan seprofesinya tak terbayangkan untuk mereka sendiri lakukan. Ia tak pernah menunjukkan sikap sebagai pengacara yang paling berani. Tapi siapapun yang mengenalnya cukup dekat tahu: ia selalu mampu mengatasi rasa takutnya. 

Bahkan di masa yang genting dan mencekam itu, ia tak mengubah kebiasaannya: pergi ke mana pun dengan motor bebek dan tas kecil di pundak; bukan tanpa sadar bahwa ia selalu mungkin ditabrak oleh mobil besar “orang tak dikenal.” 

Pernah saya tanya: apakah ada pihak yang mengancamnya karena tidak menerima putusan-putusannya sebagai hakim? "Tidak ada," katanya. "Kalau sampai ada, saya akan balik mengancamnya dan saya akan kejar dia hingga tujuh turunan!" 

Sikap seperti itu bukan bentuk keberaniannya, tapi ekspresi keyakinan bahwa putusan apapun yang dibuatnya adalah atas dasar kebenaran hukum. Jika untuk itu ia harus menanggung harganya, ia tidak akan pernah segan untuk membayarnya. Dalam bentuk apapun. 

Ia membuka praktik pribadi seusai pensiun dari LBH dan setelah drama petrus berakhir. Citranya sebagai pengacara penentang aksi ekstralegal brutal itu terbentuk kuat, dan membuat calon klien menghindarinya. Beberapa kali saya mengunjungi kantornya, dan jadi mengerti bahwa ada alasan tambahan bagi klien untuk menghindarinya: satu-satunya yang menonjol di sana adalah timbunan koran tua, yang sebagian sampai menyundul plafon. Kondisi meja kerja dan ruang rapatnya jauh sekali dari kenormalan kantor sejenis. 

***

Sikap tak mau meminta ia ulangi ketika ia diangkat menjadi hakim agung pada awal 2000. Kami mengunjungi rumah kontrakannya di sebuah gang sempit di Kwitang -- disediakan oleh beberapa mahasiswanya -- dan saya terkejut karena kami harus duduk di lantai beralaskan tikar. Ia minta maaf karena belum sempat membeli kursi. Ia pergi-pulang ke kantor Mahkamah Agung dengan menumpang bajaj. 

Ketika saya rasa saatnya tepat, saya mulai "memprotes". Tidak pantas seorang hakim agung tinggal di gang sempit dan naik bajaj, saya bilang. "Saya dengar ada jatah rumah dan mobil dari kantor," katanya dengan datar. "Tapi saya tidak mau menghadap pejabat yang mengurusnya untuk meminta-minta. Kalau memang jatah itu ada, berikan saja. Tanpa perlu saya minta." 

Si pejabat rupanya sengaja menciptakan situasi yang mengharuskannya menghadap dan memohon; membuat Artidjo, sebagai "anak baru" yang wajib tahu diri dan harus tahu siapa yang berkuasa di instansi itu, berada dalam posisi "di bawah". Pejabat itu, saya masih ingat namanya karena Artidjo menyebutnya, tidak tahu dia sedang berhadapan dengan manusia jenis apa. 

Belakangan jatah apartemen itu ia dapatkan, dan ditempatinya hingga ia pensiun 18 tahun kemudian. Selama masa yang panjang itu, dalam obrolan ia tak pernah sekali pun menyinggung soal keinginan memiliki rumah baru, baik di Jogja apalagi di Jakarta. 

Ia mengisyaratkan apartemen fasilitas negara yang dinikmatinya sudah lebih dari cukup. Rumah kecilnya di kompleks sederhana di Sidoarum, Jogja, yang mulai dicicilnya 40 tahun lalu, dengan perabot yang tak berganti, pun tetap sama. 

Artidjo juga kemudian pergi-pulang ke kantor dengan mobil. Tapi saya tak tahan untuk tak mengusiknya. Mobil kecil buatan Korea itu tampak ganjil dan kocak karena bersupir. Saya bilang, pakailah mobil yang lebih layak bagi seorang hakim agung; tidak perlu mewah. Sebuah mobil menengah yang cukup besar tentu lebih pantas. Ia bilang, jatah uang mobil dari kantor hanya cukup untuk membeli mobil mini bekas itu. Saya dan kawan-kawan merasa percuma berdebat dengan dia tentang hal-hal yang menyangkut kelayakan hidup bagi pejabat negara setinggi dia. 

Ia memiliki berpuluh-puluh mantan mahasiswa dan junior yang menjadi pengacara sukses, yang mengenal dan dikenalnya dengan baik. Dan tak ada seorang pun yang berani menyinggung kasus yang sedang mereka tangani, jika kasus itu ia sidangkan di tingkat kasasi di Mahkamah Agung. 

Ia tak pernah eksplisit menyatakan sikapnya, tapi mereka semua bisa menangkap sinyal yang kadang dikirimnya: jika klien dari pengacara alumni UII memang bersalah, atau kasusnya terkait dengan figur HMI (hmi adalah organisasi yang ia banggakan dan selalu ia jaga integritasnya dengan caranya sendiri), ia akan menjatuhkan hukuman lebih berat. 

Baginya, predikat keislaman yang juga sangat dekat dengan emosinya itu wajib dijaga ekstraketat, dan karena itu pelanggarannya pun harus dihukum ekstraberat. Semua maklum belaka atas ketentuan tak tertulis dan tak pernah dibicarakan terbuka ini -- dan tak ada yang cukup punya nyali untuk menawar atau memohon sejenis kompromi kepada Artidjo. 

Setelah pensiun pada 2018, ia mengatakan tidak akan kembali ke habitat lamanya, dunia hukum, dalam kapasitas apapun. Ia ingin jadi petani di desa. Sejak lama ia memang gemar merawat bonsai dan memelihara ayam pelung. Dulu ia kadang membawa sendiri, dengan menumpang kereta api, beberapa ekor ayam yang memikat itu untuk hadiah bagi kawan-kawannya di Jakarta. Tapi bangsa Indonesia menilai ada tempat yang lebih patut dan diperlukan darinya daripada bertani. Ia kemudian menerima amanat baru: anggota Dewan Pengawas KPK. 

Sebagai praktisi dan dosen Hukum Pidana, Artidjo tak pernah kehilangan minat akademisnya. Sejak pertama kali saya mengenalnya empatpuluh tahun silam, ketika ia memimpin lembaga penelitian di Fakultas Hukum UII dan sibuk mengikuti pelatihan riset oleh Himpunan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) -- ia meneliti kaum tuna wisma, dan menerbitkan buku "Gelandangan: Insan Kesepian di Tengah Keramaian" -- ia tak berubah. Ia selalu menghargai ikhtiar keilmuan, selalu respek pada pencapaian prestasi keilmuan. 

Dalam usia tak lagi muda, ia berangkat ke Universitas Columbia, Amerika, untuk berlatih menjadi pengacara hak-hak azasi manusia -- pusat perhatiannya sepanjang hayat. Ia juga studi S2 di universitas lain di sana, lalu mendapat doktor hukum di Universitas Diponegoro dalam usia 59. 

Saya bangga pernah mendirikan Lembaga Pembela Hukum (LPH) bersamanya dan tiga kawan lain, untuk menampung para calon pengacara yang tak kebagian tempat berlatih di LBH dan LKBH FH-UII. Selama lima belas tahun pertama aktifitas LPH,  tampaknya lembaga itu cukup sukses menjalankan misinya dan mencetak sejumlah pengacara andal. 

Dunia boleh berubah setiap minggu, setiap tahun, setiap satu dekade, tapi Artidjo tidak. Dalam posisi apapun, menetap di mana pun, ia tetaplah sebuah monumen kejujuran dan sikap pantang menyerah. Dan ia tak pernah mengeluhkan situasi. Ia tahu betul betapa parah dunia hukum kita, sampai kadang menggoda banyak orang untuk putus asa. 

Tapi baginya berputus asa adalah puncak kesia-siaan sikap. Selalu mengupayakan perbaikan tanpa henti, dengan segenap daya terkecil yang ada -- inilah sikap yang tak pernah surut dipegangnya. "Yang perlu kamu lakukan hanya berusaha sebaik-baiknya," katanya selalu kepada mahasiswanya. "Jangan pikirkan hasilnya. Itu bukan urusan kita. Fokus saja pada ikhtiarnya."

Ia yang seumur hidup tak pernah kelebihan berat badan, mengidap problem jantung dan paru-paru menahun, dan tetap menolak keras dirawat di rumah sakit. Tiga mantan mahasiswanya yang telah dianggapnya sebagai anak -- Ari Yusuf Amir, Sugito Atma Pawiro dan Kun Wahyu Wardhana -- tak pernah lelah membujuknya untuk berobat secara layak. Setiap dua-tiga minggu sekali, mereka membawanya ke rumah sakit. 

Pada Selasa, 23 Februari, untuk ke sekian kalinya mereka membawanya, dan kali ini dokter bersikeras memintanya dirawat di sana karena kapasitas jantungnya dinyatakan tinggal 31 persen. Ia tetap menolak. Ia masih bisa makan enak, dan tiap hari masih bisa bekerja, katanya, menyanggah desakan untuk dirawat. 

Lima hari kemudian, pada pukul 9 pagi, supirnya mengetuk pintu apartemennya. Tak ada sahutan. Mungkin ia sedang beristirahat. Di hari Minggu ini tak ada kegiatan yang mendesak. Lima jam kemudian, karena tiada tanda-tanda kehidupan di apartemen pinjaman KPK di Kemayoran itu, dan anak kunci menancap di lubangnya, sejumlah orang mendobrak pintunya. Terlihat ia terkulai di tempat tidurnya. 

Kebisingan sejumlah orang yang berkerumun di kamar tidurnya tak membuatnya bereaksi. Ia rebah seorang diri dengan mata terpejam, jauh dari isterinya yang menetap di Semarang, tanpa anak. Tampaknya ia terkena serangan jantung yang keras, lebih keras daripada yang memukulnya enam bulan lalu di tempat yang sama. 

Mata saya terasa hangat, dan saya mengatupkannya, merelakan kepergian Bang Artidjo, seorang guru dan sahabat yang telah menyajikan begitu banyak teladan hidup yang amat mengesankan. Sebuah tonggak integritas berusia 72 tahun 9 bulan, yang kadang membuat saya malu karena terlalu sedikit contoh yang disuguhinya tanpa dia maksudkan untuk saya tiru, yang bisa saya tiru.

***

Ia lebih dari memenuhi syarat untuk mendapat tempat di makam pahlawan. Selama belasan tahun membereskan hampir duapuluh ribu perkara di Mahkamah Agung, bahkan tanpa menghitung masa puluhan tahun sebelumnya sebagai orang yang tak henti memperjuangkan keadilan, kehadirannya memercikkan sedikit harapan bahwa keadilan memang sesuatu yang mungkin terwujud di tanah air. 

Tapi ia tak mungkin dimakamkan di Kalibata. Ia tak pernah mengurus segala macam syarat administratif dan birokrasi yang memungkinkannya dikuburkan di sana. Ia tetap dia yang dulu: tak pernah menganggap penting segala macam predikat, apalagi status pahlawan bangsa. 


Sepanjang hidupnya ia mengamalkan kejujuran dan integritas tak kenal ampun. Bahkan kematiannya pun memahat sebuah prasasti keihklasan. ***

Tags

Wow (171) Ragam (122) Tips (104) Inspirasi (74) Tekno (44) Lifestyle (23) Kuliner (14) Aneh Nyata (9) Renungan Cerdas (4) Kesehatan (3) Agama (2) Biografy (2) Definisi Politik (2) Demokrasi Pancasila (2) Filsafat Politik (2) Kisah Nyata (2) Lintas Agama (2) Memilih Profesi (2) Nasihat Bijak (2) Radikalisme (2) Sejarah (2) Tokoh Dunia (2) Abdurrahman Wahid (1) Arabisasi (1) Bahaya Gula (1) Bahaya Nasi (1) Batik (1) Batu Giok (1) Belas Kasihan (1) Berita Hoax (1) Biji Bijian (1) Birgaldo Sinaga (1) Bisnis Wisata (1) Bom Nuklir (1) Bom Nunklir (1) Buddhist (1) Buku (1) Cerdas Kreatif (1) Croc Brain (1) Dana Trading (1) Demokrasi (1) Desain Logo (1) Disney Land (1) Dokumen Rahasia (1) Ego Pengertian (1) Egoisme (1) Egoistis (1) Egosentris (1) Ekonomi (1) Foto Grafer (1) Fungsi Air Putih (1) Fungsi Lada Hitam (1) Fungsi Makanan (1) Fungsi Smartphone (1) Ginjal (1) Harta Karun (1) Hypnowriting Teknik (1) Identias (1) Imlek (1) Islam Nusantara (1) Jembatan (1) Kaki Diatas (1) Kasih Sayang (1) Kebaikan (1) Kebebasan (1) Kebiasaan Buruk (1) Kekuatan Super (1) Kelompok Radikal (1) Kenali Berita (1) Kesejahteraan Rakyat (1) King Kobra (1) Konsumsi Berlebihan (1) Kota Hindu (1) Kritik Bill Gates (1) Liberalisme (1) Lukisan (1) Lukisan Istana (1) Manfaat Trading (1) Manusia Modern (1) Melawan Kanker (1) Memutihkan Baju (1) Menghindari Semut (1) Mengkilapkan Kaca (1) Meritokrasi (1) Merusak Mobil (1) Miras (1) Momen Wisuda (1) Motivasi (1) NKRI (1) Nasib Manusia (1) Negara Meritokrasi (1) Obat Kanker (1) Oligarchy (1) PKI (1) Pahlawan (1) Pancasila (1) Para Jomblo (1) Pembasmi Kanker (1) Pembunuhan (1) Pengemis Gombal (1) Pengetahuan Praktis (1) Penuan Kulit (1) Penyeberangan (1) Penyerap Racun (1) Pertarungan BruceLee (1) Politik (1) Politik Praktis (1) Prajurit Kostrad (1) Pribumi (1) Produk Kecantikan (1) Renunang (1) Sejarah Presiden RI (1) Seni Hias Kue (1) Situasi Darurat (1) Sukses Hidup (1) Suku Tionghoa (1) Taman Hias (1) Tank Tentara (1) Telinga (1) Tingkah Laku (1) Tionghoa (1) Toleransi (1) Trik Belajar (1) Turunkan Berat (1) Uang Kotor (1) Waw (1) Wisata (1)

Follow Us